Perkembangan dan adanya perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman memiliki corak dan ciri yang berbeda. Kondisi yang demikian cenderung memacu manusia untuk cenderung berfikir untuk mencari nilai kebenaran itu. Kebenaran yang dimaksud, dalam konteks filsafat adalah kebenaran yang tergantung sepenuhnya pada kemampuan daya nalar manusia. Oleh karena itu pengertian kebenaran menurut Aristoteles Plato adalah apabila pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya (Jujun dalam Jalaludin dan Abdullah).
Beranjak pada hal tersebut diatas, maka peran filsafat dalam dunia pendidikan adalah memberi kerangka acuan bidang filsafat pendidikan, guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan oleh suatu masyarakat atau bangsa maka tak mengherankan bila filsafat pendidikan yang terdapat pada suatu negara dipengaruhi oleh filsafat hidup yang menjadi anutan bangsa di Negara itu.
KAJIAN PUSTAKA N
1. Filsafat Pendidikan
Sebelum memasuki pembahasan tentang filsafat pendidkan terlebih dahulu kita harus mengemukakan pengertian dari pada filsafat itu sendiri. Kata filsafat berasal dari bahsa Yunani, kalimat ini berasal dari kata Philosopia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata Philos yang berati cinta, senang, suka, dan kata Sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan (Ali 1987 dalam Jalaludin dan Abdulah 1997:9)
Dalam pengertian yang lebih luas Harol Titus mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut:
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis
2. Filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan
4. Filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang arti konsep
5. Filsafat ialah sekumpulan problem-problem yang langsung mendapat perhatian dan dicarikan jawabanya oleh ahli filsafat (Jalaludin dan Abdullah 1997 : 9)
Selanjutnya Barnadib (1994) menjelaskan, filsafat sebagai pandangan yang menyeluruh dan sistematis. Menyeluruh karena filsafat bukan hanya pengetahuan melainkan juga suatu pandangan yang dapat menembus sampai di balik pengetahuan itu sendiri. Sistematis karena filsafat menggunakan berpikir secara sadar, teliti, dan teratur sesuai dengan hukum-hukum yang ada (Jalaludin dan Abdullah 1997 : 9)
2. Filsafat Pendidikan Islam.
Mempelajari filsafat pendidikan islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematis, logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan.
Melakukan pemikiran filosofos pada hakikatnya adalah usaha menggerakkan semua potensi psikologis manusia seperti pikiran, kecardasan, kemauan, perasaan, ingatan serta pengamatan panca indra tentang gejala kehidupan.
Filsafat pendidikan islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya di jiwai oleh ajaran islam. (Arifin, 2009 : 1)
PEMBAHASAN
1. Latar Belakang Munculnya Filsafat Pendidikan
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan pada mulanya mampu menjawab segala pertanyaan tentang segala sesuatu dan segala macam masalah. Masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia dengan segala problematika kehidupanya, yang dibicarakan oleh filsafat. Kemudian karena perkembangan dan keadaan masyarakat yang dinamis, banyak problem yang tidak dijawab oleh filsafat, maka lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problem-proplem perkembangan metodologi ilmiah yang semakin pesat. (Jalaludin dan Abdullah, 1997:31).
Setiap disiplin ilmu memiliki obyek dan sasaran yang berbeda-beda, disiplin ilmu mengurus dan mengembangkan bidang garapan tersendiri. Akibatnya terjadi pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, maka lahirlah cabang ilmu yang lain untuk membantu menjawab segala macam permasalahan-permasalahan yang timbul, termasuk permasalah-permasalahan di bidang pendidikan. John Dewey, menyatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidiakan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan (Ibid Hal:32)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang melatar belakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya perubahan-perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan, yang tidak mampu dijawab sendiri oleh filsafat saja, banyaknya ide-ide yang baru di dunia pendidikan.
2. Pengertian Filsafat Pendidikan
Berbagai pengertian tentang filsafat pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya :
1. Menurut Al-Syaibani, filsafat pendidikan yaitu aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Artinya bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat, filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan.
2. Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosinal), menuju kearah tabiat manusia.
3. Menurut Bernadib, filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban daripada pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat kita tarik suatu pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan yang merumuskan kaidah norma-norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya.
3. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertikal dan horisontal. Istilah ini juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat pendidikan. Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horisontal, meluas kesamping yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problema-problema pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang pendidikan dan pengajaran.
Adapun filsafat pendidikan menunjukkan hubungan vertikal, naik ke atas atau turun ke bawah dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti pengantar pendidikan, sejarah pendidikan, teori pendidikan, perbandingan pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan. Hubungan vertikal antara disiplin ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau keahlian dan pendalaman atas rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis.
Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.
Dalam buku filsafat pendidikan karangan Jalaludin dan Abdullah mengemukakan bahwa Brubachen mengatakan hubungan antara filsafat dan pendidikan sangat erat sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin tersebut menghadapi problema-problema filsafat secara bersama-sama.
Sebagaimana kita ketahui bahwa filsafat yang kita jadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali aspek dibidang pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan atau mewariskan nilai-nilai filsafat itu sendiri.
Hubungan antara filsafat dan pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu system pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktifitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai yang ingin dicapai.
Kilpratik mengatakan bahwa: Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha, berfilsafat adalah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita itu didalam kehidupan.
Lebih lanjut, Bruner dan Burns secara tegas mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah merupakan tujuan filsafat, yaitu untuk membimbing kearah kebijaksanaan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah realisasi dari ide-ide filsafat.
Diantara hubungan filsafat dengan teori pendidikan yaitu sebagai berikut:
a. Filsafat, dalam arti filosofis merupakan suatu cara pendekatan yang dipakai dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan oleh para ahli.
b. Filsafat, berfungsi memberi arah bagi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi dengan kehidupan yang nyata
c. Filsafat, dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.
Menurut Saifullah dalam Jalaludin dan Abdullah (1997:23) antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan terdapat hubungan yang suplementer, yaitu sebagai berikut: Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatanya pada dua fungsi normative ilmiah, yaitu:
a. Kegiatan merumuskan dasar-dasar, tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi dan hakikat pendidikan
b. Kegiatan merumuskan system atau teori pendidikan yang meliputi, politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.
Filsafat dilihat dari fungsinya secara praktis adalah sebagai sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapinya, termasuk dalam problematika dibidang pendidikan. Oleh karena itu apabila dihubungkan dengan persoalan pendidikan secara luas, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan arah dan pedoman atau pijakan dasar bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidikan
Menurut (Arifin dalam Jalaludin dan Abdullah) keberadaan filsafat dalam ilmu pendidikan bukan merupakan insidental, artinya filsafat itu merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan, filsafat mengajukkan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki aspek realita dan pengalaman yang banyak didapatkan dalam bidang pendidikan.
Dalam hubungan antara filsafat (umum) dan filsafat pendidikan, maka filsafat pendidikan memiliki batasan-batasan sebagai berikut:
1. filsafat pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan. Maka filsafat pendidikan berusaha untuk menjelaskan dan menerangkan supaya pengalaman ehidupan manusia ini sesuai dengan kehidupan baru.
2. mempelajari filsafat pendidikan karena adanya kepercayaan bahwa kajian itu sangat penting dalam mengembangkan pandangan terhadap proses pendidikan dalam upaya memperbaiki keadaan pendidikan.
3. filsafat pendidikan memiliki prinsip-prinsip, kepercayaan, andaian yang terpadu satu sama lain.
4. Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselasaikan bilamana didasarkan keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat.
Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan islam merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan islam, filsafat islam juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan, selain itu filsafat pendidikan islam juga bertugas melakukan kririk-kritik tentang metode-metode yang digunakan dalam proses pendidikan islam sekaligus memberikan pengarahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan secara efektif untuk mencapai tujuan. (Arifin, 2009: 2).
Dengn demikian filsafat pendidikan Islam seharusnya bertugas dalam tiga dimensi, yakni sebgai berikut:
1. memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan pada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran islam.
2. melakukan kritik dan dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut.
3. melakukan evaluais terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.
Pola dan sistem berpikir filosofis dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan, manusia, dan dan alam sekitar menjadi menjadi objek pemikiran filsafat pendidikan Islam.
Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
KESIMPULAN
Pendidikan adalah hal yang selalu berhubungan langsung dengan hidup dan kehiupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiannya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan cirri-ciri kemanusianya.
Filsafat pendidikan islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya di jiwai oleh ajaran islam.
Filsafat dilihat dari fungsinya secara praktis adalah sebagai sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapinya, termasuk dalam problematika dibidang pendidikan. Oleh karena itu apabila dihubungkan dengan persoalan pendidikan secara luas, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan arah dan pedoman atau pijakan dasar bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidikan.
Hubungan antara filsafat dan pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu system pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktifitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai yang ingin dicapai.
Senin, 30 November 2009
kompetensi: wacana normatif
1. Kompetesi : wacana normatif
Kompetensi merupakan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk maju, mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya dalam kerangka pembangunan pendidikan.
Dengan demikian untuk menjadi guru yang dapat diandalkan oleh siswa, bangsa dan Negara, guru harus mememiliki, menghayati, dan mengaplikasikan kompetensi tersebut. Secara normatif kompetensi guru telah dijelaskan dalam undang-undang guru dan dosen dan dalam hal penentuan sikap guru memiliki kode etik yag menjembatani sekaligus sebagai panduan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kasus asusila marak dilakukan guru? Apakah tidak ada upaya pencegahan? dll. Kalau guru tidak berprinsip pada kode etik dalam kehidupannya baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, maka UU, PP, Permendiknas, dan apapun namanya hanyalah sebuah wacana yang tidak dapat diaplikasikan.
2. realitas guru dilapangan (fokus pada kompetensi sosial dan kepribadian)
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi, berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, wali murid, lebih luas lagi masyarakat. Sehingga dengan memahami kompetensi social tersebut, guru diharapkan bertindak objektif, tidak diskriminatif, mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, santun, dan mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat pada umumnya.
Sedangkan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berahklak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik maupun masyarakat. Dengan demikian, guru diharapkan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, guru harus menampakkan pribadi yang jujur, berahklak mulia, dapat menjadi tauladan, menjadi pribadi yang mantap, serta menjunjung tinggi kode etik professional.
Uraian diatas merupakan harapan serta yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga tugas guru sebagai pendidik, pengajar dapat berlangsung dengan baik, karena memang guru merupakan ujung tombak di dunia pendidikan, selain itu guru juga merupakan penentu kesuksesan pelaksanaan pendidikan atau pembangunan pendidikan.
Harapan diatas bertolak belakang ketika banyak kasus yang melibatkan oknum guru yang terjadi dilapangan baik tindakan pidana maupun kasus-kasus asusila, sehingga predikat guru sedikit menurun dimata masyarakat.
3. Apa yang harus dilakukan?
Kalau kita lihat banyaknya kasus pemidanaan guru kepengadilan banyak terkait dengan tindakan guru dalam mendisiplinkan peserta didik yang mungkin dengan cara yang dianggap keras oleh peserta didik sehingga dilaporkan pada orang tua dan berlanjut ke kepolisian, juga dengan alasan melanggar UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak khususnya pasal 54 yang menyebut bahwa sekolah merupakan zona bebas kekerasan terhadap anak, sehingga guru kerap di pidana.
Dengan maraknya kasus asusila maupun tindakan kriminal yang dilakukan oknum guru, sekiranya perlu adanya kerja sama yang baik dalam sistem pendidikan, mulai dari pemerintah, mendiknas, organisasi guru seperti PGRI, LSM-LSM yang bergerak di bidang pendidikan dan masyarakat. Selain itu guru juga harus mendapat perlindungan hukum sebab sesuai dengan UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru wajib mendapatkan perlindungan dari pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat. Termasuk optimalisasi peran PGRI sebagai organisasii keguruan.
Kompetensi merupakan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk maju, mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya dalam kerangka pembangunan pendidikan.
Dengan demikian untuk menjadi guru yang dapat diandalkan oleh siswa, bangsa dan Negara, guru harus mememiliki, menghayati, dan mengaplikasikan kompetensi tersebut. Secara normatif kompetensi guru telah dijelaskan dalam undang-undang guru dan dosen dan dalam hal penentuan sikap guru memiliki kode etik yag menjembatani sekaligus sebagai panduan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kasus asusila marak dilakukan guru? Apakah tidak ada upaya pencegahan? dll. Kalau guru tidak berprinsip pada kode etik dalam kehidupannya baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, maka UU, PP, Permendiknas, dan apapun namanya hanyalah sebuah wacana yang tidak dapat diaplikasikan.
2. realitas guru dilapangan (fokus pada kompetensi sosial dan kepribadian)
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi, berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, wali murid, lebih luas lagi masyarakat. Sehingga dengan memahami kompetensi social tersebut, guru diharapkan bertindak objektif, tidak diskriminatif, mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, santun, dan mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat pada umumnya.
Sedangkan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berahklak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik maupun masyarakat. Dengan demikian, guru diharapkan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, guru harus menampakkan pribadi yang jujur, berahklak mulia, dapat menjadi tauladan, menjadi pribadi yang mantap, serta menjunjung tinggi kode etik professional.
Uraian diatas merupakan harapan serta yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga tugas guru sebagai pendidik, pengajar dapat berlangsung dengan baik, karena memang guru merupakan ujung tombak di dunia pendidikan, selain itu guru juga merupakan penentu kesuksesan pelaksanaan pendidikan atau pembangunan pendidikan.
Harapan diatas bertolak belakang ketika banyak kasus yang melibatkan oknum guru yang terjadi dilapangan baik tindakan pidana maupun kasus-kasus asusila, sehingga predikat guru sedikit menurun dimata masyarakat.
3. Apa yang harus dilakukan?
Kalau kita lihat banyaknya kasus pemidanaan guru kepengadilan banyak terkait dengan tindakan guru dalam mendisiplinkan peserta didik yang mungkin dengan cara yang dianggap keras oleh peserta didik sehingga dilaporkan pada orang tua dan berlanjut ke kepolisian, juga dengan alasan melanggar UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak khususnya pasal 54 yang menyebut bahwa sekolah merupakan zona bebas kekerasan terhadap anak, sehingga guru kerap di pidana.
Dengan maraknya kasus asusila maupun tindakan kriminal yang dilakukan oknum guru, sekiranya perlu adanya kerja sama yang baik dalam sistem pendidikan, mulai dari pemerintah, mendiknas, organisasi guru seperti PGRI, LSM-LSM yang bergerak di bidang pendidikan dan masyarakat. Selain itu guru juga harus mendapat perlindungan hukum sebab sesuai dengan UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru wajib mendapatkan perlindungan dari pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat. Termasuk optimalisasi peran PGRI sebagai organisasii keguruan.
TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA
I. Pendahuluan
Perkembangan masyarakat yang semakin kompetitif menuntut setiap orang untuk berkompetisi secara sehat. Demikian halnya dengan sebuah lembaga termasuk lembaga pendidikan kompetisi untuk merebut pasar menuntut setiap lembaga untuk mengedepankan kualitas dalam proses manajerialnya dan pembelajarannya. Dalam kaitannya dengan persoalan kualitas ini, sekarang telah berkembang sebuah pendekatan, khususnya dalam proses menejerial, yaitu apa yang disebut Total Quality Manajemen (TQM).
TQM dapat digunakan untuk menggambarkan dua gagasan yang agak berbeda tetapi saling berkaitan. Pertama, adalah filsafat perbaikan terus menerus. Kedua, arti yang saling berkaitan menggunakan TQM untuk menggambarkan alat dan teknik, seperti brainstorming dan analisis lapangan, dimana digunakan untuk meletakkan perbaikan kualitas ke dalam tindakan. TQM baik dalam konteks pikiran ataupun aktivitas praktis merupakan sikap dari pikiran dan metode perbaikan terus menerus .
Tulisan ini akan memaparkan seputar pendekatan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan. Secara sistematis, pemaparan akan difokuskan pada beberapa aspek, atara lain; pengertian dan beberapa pandangan mengenai Total Quality Management (TQM), TQM dalam pendidikan, implementasi TQM dalam pendidikan.
II. Pengertian dan Beberapa Pandangan Tentang TQM
Untuk memahami Total Quality Management, terlebih dahulu perlu dijabarkan pengertian kualitas (quality), kualitas terpadu (Total Quality) dan manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management).
A. Kualitas (Quality)
Istilah kualitas menjadi menderita karena sering digunakan untuk menggambarkan lambang-lambang seperti; kecantikan, kebaikan, kemahalan, kesegaran dan di atas semua itu, kemewahan. Karena itu, kualitas menjadi konsep yang sulit dimengerti dan hampir tidak mungkin ditangani. Bagaimana mungkin menangani sesuatu yang tidak jelas dan mempunyai arti demikian banyak .
Kualitas (quality) sering disama artikan dengan mutu. Kualitas sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sampai sekarang, baik di dunia industri barang atau industri jasa, belum ada definisi yang sama tentang kualitas. Goetsch dan Davis mengibaratkan bahwa kualitas itu seperti halnya pornografi, yaitu sulit didefinisikan, tetapi fenomenanya atau tanda-tandanya dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan nyata .
Setiap orang dan organisasi memiliki pengertian kualitas yang berbeda-beda. Misalnya Fred Smith, CEO General Expres mengartikan kualitas adalah kinerja standar yang diharapkan oleh pemakai produk atau jasa (customer). Menurut General Servis Administration (GSA) kualitas adalah pertemuan kebutuhan customer pada awal mula dan setiap saat. Sementara menurut W. Edward Deming, salah seorang pioner kualitas menyatakan bahwa kualitas itu memiliki banyak kriteria yang selalu berubah. Namun demikian, definisi kualitas yang diterima secara umum mencakup elemen-elemen berikut: 1)mempertemukan harapan pelanggan (customer), 2) menyangkut aspek produk, servis, orang, proses dan lingkungan, dan 3) kriteria yang selalu berkembang yang berarti bahwa sebuah produk sekarang termasuk berkualitas, tetapi di lain waktu mungkin tidak lagi berkualitas. Jadi, kualitas adalah sesuatu yang dinamis yang selalu diasosiasikan dengan produk, servis, orang, proses, dan lingkungan.
Menurut Edward Sallis, kualitas itu memang sesuatu yang tarik menarik antara sebagai konsep yang absolut dan relatif. Namun, ia menegaskan bahwa kualitas sekarang ini lebih digunakan sebagai konsep yang absolut. Karena itu, kualitas mempunyai kesamaan arti dengan kebaikan, keindahan, dan kebenaran; atau keserasian yang tidak ada kompromi. Standar kualitas itu meliputi dua, yaitu; kualitas yang didasarkan pada standar produk/jasa; dan kualitas yang didasarkan pada pelanggan (customer). Kualitas yang didasarkan pada produk/jasa, memiliki beberapa kualifikasi: 1) sesuai dengan spesifikasi, 2) sesuai dengan maksud dan kegunaannya, 3) tidak salah atau cacat, dan 4) benar pada saat awal dan selamanya. Sementara itu, kualitas yang didasarkan pada customer, mempunyai kualifikasi; 1) memuaskan pelanggan (costomer satisfaction), 2) melebihi harapan pelanggan, dan 3) mencerahkan pelanggan .
Prinsipnya, tiga guru kualitas, yaitu Philip Crosby, Edward Deming dan Joseph Juran menyatakan bahwa komitmen yang harus dibangun dalam setiap diri terhadap kualitas adalah pemahaman bahwa : Pertama, kualitas merupakan kunci ke arah program yang berhasil. Kurang perhatian terhadap kualitas akan mengakibatkan kegagalan dalam jangka panjang. Kedua, perbaikan-perbaikan kualitas menuntut komitmen menajemen sepernuhnya untuk dapat berhasil. Komitmen kepada kualitas ini harus terus-menerus. Ketiga, perbaikan kualitas adalah kerja keras. Tidak ada jalan pintas atau perbaikan cepat. Menuntut perbaikan budaya bagi organisasi secara keseluruhan. Keempat, perbaikan kualitas menuntut banyak pelatihan. Kelima, perbaikan kualitas menuntut keterlibatan semua karyawan secara aktif, dan komitmen mutlak dari manajemen senior .
Menurut Crosby, kemutlakan bagi kualitas adalah: 1) kualitas harus disesuaian sebagai kesesuaian terhadap kebutuhan-kebutuhan, bukan sebagai kebaikan, juga bukan keistimewaan, 2) sistem untuk menghasilkan kualitas adalah pencegahan bukan penilaian, 3) standar kerja harus tanpa cacat, bukan “cukup mendekati tanpa cacat”, 4) pengukuran kualitas merupakan harga ketidaksesuaian, bukan pedoman. Karena itu, menurut tokoh yang sangat terkemuka dengan gagasan kualitas ini, bahwa manajemen adalah penyebab setidak-tidaknya 80 % masalah-masalah kualitas di dalam organisasi. Karena itu, satu-satunya jalan memperbaikinya adalah melalui kepemimpinan manajemen.
Crosby memberikan “vaksin kualitas” (Quality vaccine), yaitu: 1) Tujuan: manajemen merupakan satu-satunya alat yang akan mengubah citra organisasi, 2) pendidikan: membantu semua komponen organisasi mengembangkan satu pengertian umum tentang kualitas dan memahami peran mereka masing-masing di dalam proses perbaikan kualitas, 3) penerapan: membimbing dan mengarahkan program perbaikan .
B. Kualitas Terpadu (Total Quality)
Tidak berbeda dengan definisi kualitas, bahwa definisi kualitas terpadu (total) juga memiliki pengertian yang bermacam-macam. Menurut Departemen Pertahanan Amerika, kualitas terpadu itu mencakup aktivitas perbaikan secara terus menerus yang melibatkan semua orang di dalam organisasi, baik manajer maupun semua staf-stafnya dalam berusaha secara terintegrasi mencapai kinerja yang terus meningkat pada setiap tingkatan.
Jadi, kualitas terpadu pada dasarnya adalah sebuah pendekatan untuk melakukan sesuatu yang berusaha untuk memaksimalkan keunggulan kompetitif organisasi melalui perbaikan terus menerus dalam hal produk, servis, orang, proses dan lingkungannya. Secara sistematis, kualitas total memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) dasar-dasar yang strategis, 2) fokus pada pelanggan (internal dan eksternal), 3) obsesi dengan kualitas, 4) pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan memecahkan masalah, 5) komitmen jangka panjang, 6) kerja tim, 7) perbaikan proses secara kontinyu, pendidikan dan pelatihan, 9) kebebasan yang terkontrol, 10) kesatuan tujuan, dan 11) pelibatan dan pemberdayaan tenaga.
C. Total Quality Management (TQM)
Pengertian kulitas terpadu seperti di atas, memberikan kerangka yang jelas bahwa hakekat Total Quality Management (TQM) atau manajemen kualitas terpadu sebenarnya adalah filosofi dan budaya (kerja) organisasi (phylosopy of management) yang berorentasi pada kualitas. Tujuan yang akan dicapai dalam organisasi dengan budaya TQM adalah memenuhi atau bahkan melebihi apa yang dibutuhkan (needs) dan yang diharapkan atau diinginkan (desire) oleh pelanggan.
Dengan demikian, TQM dapat diartikan sebagai pengelolaan kualitas semua komponen (stakehorder) yang berkepentingan dengan visi dan misi organisasi. Jadi, pada dasarnya TQM itu bukanlah pembebanan ataupun pemeriksaan. Tetapi, TQM adalah lebih dari usaha untuk melakukan sesuatu yang benar setiap waktu, daripada melakukan pemeriksaan (cheking) pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan. TQM bukan bekerja untuk agenda orang lain, walaupun agenda itu dikhususkan untuk pelanggan (customer) dan klien. Demikian juga, TQM bukan sesuatu yang diperuntukkan bagi menajer senior dan kemudian melewatkan tujuan yang telah dirumuskan .
“Total” dalam TQM adalah pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus-menerus. Sementara “manajemen” di dalam TQM berarti pengelolaan setiap orang yang berada di dalam organisasi, apapun status, posisi atau perannya. Mereka semua adalah manajer dari tanggung jawab yang dimilikinya.
Senada dengan pengertian ini, Lesley dan Malcolm menyatakan bahwa dalam TQM, maka semua fungsionaris organisasi, tanpa kecuali dituntut memiliki tiga kemampuan, yaitu : Pertama, mengerjakan hal-hal yang benar. Ini berarti bahwa hanya kegiatan yang menunjang bisnis demi memuaskan kebutuhan pelanggan yang dapat diterima. Kegiatan yang tidak perlu maka jangan dilanjutkan lagi. Kedua, mengerjakan hal-hal dengan benar. Ini berarti bahwa semua kegiatan harus dijalankan dengan benar, sehingga hasil kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Ketiga, mengerjakan hal-hal dengan benar sejak pertama kali setiap waktu. Hal ini dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah kesalahan yang timbul. Prinsipnya, menurut Lesley dan Malcolm, TQM itu merupakan suatu pendekatan sistematis terhadap perencanaan dan manajemen aktivitas, yang memiliki motto: Do the right think, first time, every time, yaitu “kerjakan sesuatu yang benar dengan benar, sejak pertama kali, setiap waktu”
Goetsch dan Davis memberikan beberapa karakteristik manajemen kualitas : 1) komitmen total pada peningkatan nilai secara kontinyu terhadap customer, investor dan tenaga (staf), 2) lembaga memahami dorongan pasar yang mengartikan kualitas bukan atas dasar kepentingan organisasi tetapi kepentingan customer, dan 3) komitmen untuk memimpin orang dengan perbaikan dan komunikasi terus-menerus.
Fandy Ciptono dan Anastasia menjelaskan bahwa prinsip dan unsur pokok dalam TQM, sebagai berikut :
Pertama, kepuasan pelanggan. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas itu ditentukan oleh pelanggan (internal maupun eksternal). Kepuasan pelanggan harus dipenuhi dalam segala aspek, termasuk harga, keamanan, dan ketepatan waktu.
Kedua, respek terhadap setiap orang. Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas tersendiri yang unik. Dengan begitu, setiap karyawan dipandang sebagai sumber daya organisasi yang paling bernilai. Karena itu, setiap karyawan dalam organisasi diperlakukan secara baik dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, berbartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.
Ketiga, manajemen berdasarkan fakta. Organisasi berorientasi pada fakta. Artinya bahwa setiap keputusan organisasi harus didasarkan pada data, bukan pada perasaan (feeling). Dua konsep pokok berkait dengan fakta; 1) prioritisasi (prioritization), yaitu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakaukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Dengan demikian, dengan menggunakan data, maka manajemen dan tim dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital. 2) variasi (variation), atau variabilitas kinerja manusia. Data dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari setiap system organisasi. Dengan demikian manajemen dapat memprediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
Keempat, perbaikan berkesinambungan.Perbaikan berkesinambungan merupakan hal yang penting bagi setiap lembaga. Konsep yang berlaku di sini adalah siklus PDCA (plan, do, check, act).
III. Konsep TQM dalam Industri dan Perdagangan
Amerika Serikat pernah menikmati situasi dimana standart hidupnya paling tinggi di dunia untuk jangka waktu 100 tahun. Mereka pernah menjadi pelopor dan pemimpin dalam perkembangan factor-faktor pendorong utama bagi peningkatan standar hidup, yaitu dalam perbaikan produktivitas, pertumbuhan, dan inovasi. Kemampuan pemanufakturan Amerika saat itu mampu memberikan basis ekonomi yang memungkinkan membangun masyarakat yang berstandar hidup terbaik di dunia. Akan tetapi sejak tahun 1980-an terjadi perubahan besar.
Amerika mulai kehilangan pasarnya, produktifitasnya tertinggal dari Jepang, tingkat pengangurannya meningkat dalam sektor manufaktur, dan posisi kompetitifnya semakin terkikis dalam pasar global. Semua ini merupakan gejala dari penurunan sektor industri Amerika. (Tjiptono dan Anastasia, 2003:8)
Pada mulanya Jepang hanya dalam mempromosikan produk di pasar global hanya mengandalkan harga murah atau pada aspek biaya sedangkan kualitas produk belum terlihat. Beberapa decade kemudian perusahaan- perusahaan Jepang menyadari bahwa kunci sukses di masa mendatang adalah kualitas. Oleh karena itu, Jepang sangat menaruh perhatian terhadap kualitas.
Berbagaikan upaya perbaikan dilakukan Jepang, misalnya mengirimkan tim khusus ke luar negeri untuk mempelajari pendekatan-pendekatan yang dilakukan perusahaan asing dan menerjemahkan literature asing yang terseleksi kedalam bahasa Jepang, mengundang dosen-dosen asing untuk dating ke Jepang dan memberikan kursus pelatihan kepada para manajernya. Jepang akhirnya menemukan strategi untuk menemukan revolusi dalam kualitas. Beberapa diantaranya adalah :
1. para manager tingkat atas secara personal mengambil alih pimpinan revolusi tersebut
2. semua level dan fungsi menjalani pelatihan untuk mengelola kualitas
3. perbaikan kualitas dilakukan dengan revolusioner dan terus-menerus
4. tenaga kerja dilibatkan dalam perbaikan kualitas melalui konsep pengendalian kualitas (Quality control)
Berkat usaha-usaha tersebut, maka pada pertengahan 1970-an kualitas barang-barang manufaktur Jepang, seperti mobil dan produk elektronika melampaui kualitas yang dihasilakan para pesaingnya dari Barat.
Dasar pemikiran perlunya TQM sangatlah sederhana, yakni bahwa cara terbaik agar dapat bersaing dan unggul dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan kualitas yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas terbaik diperlukan upaya perbaikan bekesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan. Cara terba agar dapat memperbaiki kemampuan komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan adalah dengan menerapkan TQM.
Penerapan TQM dalam suatu perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama yang pada ggilirannya meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang bersangkutan. Dengan melakukan perbaikan kualitas secara terus-menerus maka perusahaan dapat meningkatkan labanya melalui dua rute. Pertama rute pasar, dalam hal ini perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya sehingga pangsa pasarnya semakin besar dan harga jualnya dapat lebih tinggi. Kedua perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan melalui upaya perbaikan kualitas.
Dalam buku” Managing Quality”, Garvin (dalam Bounds, et al 1994; Lovelock, 1994; Tjipto dan Anastasia 2003: 28) mengungkapkan bahwa kualitas sebagai suatu konsep sudah lama dikenal, tetapi kemunculannya sebagai fungsi manajemen baru terjadi akhir-akhir ini. Ia membagi pendekatan modern terhadap kualitas kedalam empat era kualitas, yaitu inspeksi (pendekatan untuk mengukur kualitas produk berdasarkan kinerja sesungguhnya), pengendalian kualitas statistical, jaminan kualitas, dan manajemen kualitas strategic.
Ada beberapa konsep TQM dalam industri dan perdagangan yang dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya :
1. Total Qualiti Control (TQC) yang dikemukakan pada tahun 1956 oleh Armand Feigenbaum. Ia berpendapat bahwa pengendalian harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir hanya jika produk telah sampai ke tangan pelanggan yang puas.
2. Reliability engineering, muncul pada tahun 1950-an yang di dorong oleh kebutuhan Angkatan Bersenjata Amerika untuk memiliki peralatan elektronik dan senjata udara yang dapat diandalkan, bekerja dengan baik, menghindari kebutuhan untuk penggantian suku cadang yang mahal.
3. Zero defects, pertama kali dikemukakan oleh Martin Company pada tahun 1961-1962. konsep ini timbul karena kebutuhan pelanggan militer akan produk yang tidak hanya bekerja baik saat pertama kali, tetapi juga diserahkan tepat waktu. Konsep Zero defects lebih dipusatkan pada harapan manajemen dan hubungan antar pribadi daripada keterampilan rekayasa.
4. konsep teori Y dan Scanlon Plan, konsep ini mendorong manajer untuk menawarkan wewenang yang lebih besar kepada karyawan.
IV. Nilai-Nilai Kepemimpinan Pendidikan Tinggi di Indonesia
Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut kedalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik (Edwar Salis, 2008:189)
Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan keinginan dan hasrat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menetukan mutu dalam sebuah institusi adalah kepemimpinan. Mereka perpendapat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu, gaya tersebut mereka namakan MBWA (Management by Walking About) atau manajemen dengan melaksanakan.
Peter dan Austin memberi pertimbangan spesifik pada kepemimpinan pendidikan yaitu dengan menekankan pentingnya pemimpin yang unggul dalam mencapai mutu. Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini:
1. Visi dan symbol-simbol. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas
2. MBWA (Management by Walking About) adalah gaya kpemimpinan yang dibutuhkan oleh sebuah institusi
3. Untuk para pelajar, istilah ini sama dengan dekat degan pelanggan dalam pendidikan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki focus yang jelas terhadap pelanggan utamanya
4. Otonomi, eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan besiap-siap mengantisipasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut
5. Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar, orang tua, guru, dan staf institusi
6. Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas, dan antusiasme. Sifat-siat tersebut merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.
Sebagaimana yang ditekankan oleh para pakar diatas, bahwa komitmen mutu harus menjadi peran utama bagi seorang pemimpin, karena TQM adalah proses dari atas ke-bawa (top-down), dimana para pemimpin harus mampu mengorganisasikan serta menghendel bawahannya untuk mengembangkan mutu serta kualitas sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi pelanggan, dalam hal ini peserta didik sebagai subyek.
Di Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan baik pada institusi pendidikan maupun pada institusi-institusi pemerintahan lainnya belum terlihat kerja sama yang baik antara pemimpin dengan staf. Hal ini dikarenakan para pemimpin tidak dapat mengajak para stafnya untuk bekerjasama dalam mengembangkan mutu serta kualitas pelayanan karena pada dasarnya fungsi pemimpin adalah mempertinggi mutu dan mendukung para staf yang menjalankan roda mutu tersebut.
Dengan demikian nilai kepemimpinan pendidikan di Indonesia baik pada pendidikan tinggi maupun pendidikan pada umunya masih sangat jauh dengan penidikan di Eropa maupun di Asia. Hal ini kita lihat dengan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia di banding Negara-negara lain di Asia.
V. TQM dan Manajemen Pendidikan Tinggi di Indonesia
TQM adalah konsep manajemen yang mampu menyesuaikan diri dengan baik dalam filosofi umum, meskipun memang masih kurang dipraktekkan dalam dunia pendidikan karena memang tergolong baru. Sedangkan manajemen adalah upaya efektif dan efisiensi dengan mengeluarkan dana yang sedikit untuk mendapatkan penghasilan yang besar, dalam dunia pendidikan manajemen diartikan sebagai upaya pengorganisasian institusi pendidikan untuk mampu memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas dimana pelanggan atau peserta didik dapat menikmati dengan nilai materi yang terjangkau.
TQM dan manajemen merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, karena kalau kita membicarakan mutu kualitas total tentu didalamnya ada peran manajemen sebagai upaya pengimplementasian daripada TQM tersebut.
Institusi yang efektif membutuhkan strategi-strategi yang bertujuan dan kuat agar mampu meraih hasil yang kompetitif, institusi memerlukan proses untuk mengembangkan strategi mutunya, yang mencakup:
a. Visi dan Misi yang jelas dan distingtif;
b. Focus pelanggan yang jelas;
c. Keterlibatan seluruh pelanggan, baik internal maupun eksternal dalam mengembangkan strategi;
d. Pemberdayaan staf dengan cara menghilangkan kendala dan membantu mereka dalam memberi kontribusi maksimum pada institusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif;
e. Penilaian dan evaluasi efektifitas institusi dalam mencapai tujuan yang berhubungan dengan pelanggan.
Dalam intitusi pendidikan maupun perusahaan-perusahaan, beberapa langkah-langkah penting dan sederhana dan dapat diikuti dalam mengembangkan mutunya yaitu:
1. kepemimpinan dan komitmen terhadap mutu harus dating dari atas. Seluruh tokoh mutu menekankan bahwa tanpa dukungan dari manajemen senior, maka sebuah inisiatif mutu tidak akan bertahan lama.
2. mengembirakan pelanggan adalah tujuan TQM. Hal ini dapat dicapai dengan usaha yang terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan baik eksternal maupun internal
3. menunjuk fasilitator mutu sebagai pengendali mutu dalam mengembangkan program mutu serta mempublikasikan mutu
4. membentuk kelompok pengendali mutu. Perannya adalah untuk mengarahkan dan mendorong proses peningkatan mutu, mengembangkan ide sekaligus sebagai inisiator proyek
5. menunjuk coordinator mutu. Perannya adalah untuk membantu dan membimbing tim dalam menemukan cara baru dalam menengani dan memecahkan masalah
6. mengadakan seminar manajemen senior untuk mengevaluasi program
7. menganalisa dan mendiagnosa situasi yang ada, dalam hal ini institusi perlu menjelaskan arah dan tujuan yang ingin dicapai
8. menggunakan contoh-ontoh yang sudah berkembang ditempat lain
9. mempekerjakan konsultan eksternal
10. memprakarsai pelatihan mutu bagi para staf
11. mengkomunikasikan pesan mutu
12. mengukur biaya mutu
13. mengaplikasikan alat dan teknik mutu melalui pengembangan kelomok kerja yang efektif, dan
14. mengevaluasi program dalam interval yang teratur
Beberapa hal di atas harus menjadi perhatian serius dalam memanajemen pendidikan tinggi di Indonesia agar pencapaian mutu dapat terealisasikan sehingga tercipta sebuah institusi yang unggul baik internal yang berkaitan dengan penataan, pelayanan, serta komplektisitas yang dibutuhkan maupun ekternal yang berkaitan dengan outputnya dan kepuasan pelanggan atau pengguna jasa.
VI. Contoh Aplikasi TQM di Beberapa Lembaga Pendidikan Tinggi Indonesia
Di beberapa pendidikan tinggi di Indonesia sedang berusaha mengembangan TQM. Hal ini dilakukan dengan cara menata system organisasi dengan baik serta memahami kebutuhan peserta didik dalam jangka panjang. Sebagai contoh aplikasi dari pada TQM tersebut adalah pada saat proses belajar mengajar, dimana guru maupun dosen menggunakan Laptop, LCD, selain itu di masing-masing ruangan di berikan kamera peninjau sehingga dengan mudah dapat diketahui bagaimana proses berlangsung. Dalam lingkungan internal lainnya adalah sekolah maupun pendidikan tinggi menciptakan berbagai macam kebutuhan fasilitas seperti gedung yang memadai, guru/dosen yang kompeten, penataan organisasi yang moderen, serta disediakannya infrastruktur pendukung seperti lapangan olahraga, tempat khusus kegiatan siswa/mahasiswa, dan sarana prasarana yang mendukung.
VII. Implikasi TQM dalam Meningkatkan Pendidikan
Insitusi yang efektif memerlukan strategi yang kuat dan maksud tertentu untuk menghadapi suasana kompetitif dan orientasi di masa depan. Untuk menjadi efektif di dalam masa sekarang, intitusi memerlukan proses pengembangan strategi kualitas, antara lain ; 1) misi yang jelas dan tertentu, 2) menfokuskan kustomer secara jelas, 3) strategi untuk pencapaian misi, 4) pelibatan semua kustomer, baik internal maupun eksternal, di dalam pengembangan strategi, 5) penguatan staff dengan menggerakkan penghalang dan bantuan untukmembuat konstribusi maksimal terhadap institusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif, 6) penilaian dan evaluasi keefektifan insitusi menghadapi tujuan yang diharapkan oleh kustomer.
Untuk memulai mengimplementasikan manajemen kualitas total adalah sebuah tugas yang sulit. Terdapat sejumlah langkah yang simple dan penting untuk mengimplementasikan TQM dalam pendidikan, yaitu sebagai berikut :
1. Kepemimpinan dan komitmen terhadap kualitas harus datang dari atas “Hukum besi” dari kualitas. Semua model kualitas menekankan bahwa tanpa dorongan dari manajer senior inisiatif kualitas tidak akan berlangsung lama. Pendidikan tidak terkecuali berlaku juga hukum besi. Pimpinan sekolah harus menunjukkan komitmen yang kuat dan terus-menerus dan memimpin jalan sambil mendorong kepala sekolah, wakil kepela sekolah dan supervisor lain untuk melakukan usaha secara serius.
2. Menyenangkan kustomer Ini dicapai dengan kerja keras secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan kustomer. Kebutuhan kustomer diditentukan oleh pencarian secara reguler pandangan mereka. Terdapat bermacam-macam metode dari pekerjaan ini, seperti – memfokuskan kelompok, kuesioner, kelompok penasehat, hari yangterbuka dan percakapan informal dengan orang-orang.
3. Menunjuk fasilitator berkualitas. Pengabaian terhadap posisi aktual dari seseorang di dalam hirarkhi adalah penting bahwa fasilitator yang ditunjuk harus melaporkan secara langsung kepada kepala sekolah. Ini adalah pertangung jawaban dari fasilitator untuk mempublikasikan program dan mengarahkan kelompok pengarah yang berkualitas di dalam pengembangan program yang berkualitas.
4. Membentuk kelompok pengarah yang berkualitas. Kelompok ini harus mewakili kepentingan dan harus memiliki perwakilan dari tim nanajer senior. Peranannya adalah untuk mendorong dan membantu proses perbaikan kualitas. Baik sebagai pusat gagasan ataupun inisiator proyek.
5. Mengangkat koordinator yang berkualitas Ini berguna di dalam banyak inisiatif untuk memiliki orang-orang yang punya waktu untuk melatih dan penasehat orang lain.
6. Mengadakan seminar manajemen senior untuk mengevaluasi perkembangan. Tim manajemen senior tidak akan komit terhadap proses kalau mereka mengatakan dengan baik tentang filsafat dan metode. Ini penting untuk membangun tim manajemen senior yang sehat dan teritegrasi secara baik.
7. Menganalisa dan mendiagnosis situasi terkini, hal ini penting dan tidak harus disepelekan karena memberikan arah dari proses secara keseluruhan. Semua institusi perlu menjadi jelas kemana mereka akan berjalan.
8. Menggunakan model di tempat lain yang telah berkembang ini dapat diadaptasi dari pekerjaan dari seorang “guru” berkualitas, model pendidikan secara khusus, atau satu perusahaan lokal yang bisa diadaptasi.
9. Menempatkan konsultan eksternal, ini mulai sangat popular pada perusahaan industri, khususnya yang menerapkan BS5750 atau ISO9000.
10. Memulai training staf tentang kualitas pengembangan staf dapat dilihat sebagai jalan penting untuk membangun kesadaran dan pengetahuan yang berkualitas. Hal ini dapat menjadi kunci agen perubahan strategis untuk pengembangan budaya berkualitas. Ini juga penting di dalam tahap awal implementasi bahwa setiap orang dilatih di dalam dasar-dasar TQM. Staf perlu pengetahuan banyak mengenai alat-alat kunci termasuk pembentukan teamwork, metode evaluasi, problem solving dan teknik pemecahan masalah.
11. Mengkomunikasikan pesan-pesan kualitas,strategi, relevansi dan kegunaan dari TQM perlu terkomunikasikan secara efektif. Terdapat banyak sekali kesalahpahaman seputar tujuan dari kualitas. Sifat alamiah jangka panjang dari program perlu dibuat jelas. Pengembangan staf, training dan pembangunan tim adalah beberapa dari jalan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
12. Menerapkan peralatan dan teknik berkualitas melalui pengembangan kelompok kerja secara efektif. Pendekatan ini memfokuskan pada upaya mendapatkan sesuatu yang dilakukan untuk mencapai kesuksesan sejak awal. Ini memfokuskan pada sesuatu bahwa institusi mengetahui harus melakukan perbaikan, dan menyeleksi alat-alat yang benar untuk mengontrolnya. Memulai proses TQM dengan menangani pokok problem dengan menghindari kelumpuhan TQM. Tatkala menata tim aksi perbaikan atau kelompok tugas adalah penting untuk mengenal bahwa banyak isu dapat hanya dikontrol dengan tim perbaikan lintas organisasi.
13. Mengevaluasi program secara regular. Program TQM yang keluar dari inti TQM atau menjadi keluar rel. Pandangan dan evaluasi reguler perlu menjadi bagian integral dari program. Kelompok pengarah harus menangani pandangan per semester dan tim manajemen senior harus mempertimbangkan laporan mereka dan melakukan monitoring.
Persyaratan Implementasi TQM
Untukmelakukan suatu perubahan seringkali tidak mudah, apalagi bila mangkut perubahan yang besifat fundamental dan menydluruh. Biasanya setiap perubahan pasti menghadapi penolakan. Berkaitan dengan perubahan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhaiakn, yaitu:
a. Perubahan sulit berhasil bila manajemen puncak tidak menginformasikan proses perubahan secara terus-menerus kepada para karyawanya.
b. Persepsi karyawan atau interpretasinya terhadap perubahan. Karyawan akan mendukung perubahan bila mereka merasa bahwa manfaat dari perubahan akan lebih besar daripada biaya yang ditimbulkan (terutama personal cost).
Guna mengatasi dua hal diatas, maka seorang manajer sangat diharapkan untuk memberikan sebanyak mungkin informasi mengenai setiap perubahan kepada para karyawannya, menyapaikan alasan atau dasar pemikiran perlunya dilakukan perubahan, melakukan pertemuan tertentu dengan karyawan untuk membahas setiap perubahan dan kemungkinan pengaruhnya terhadap mereka.
Ada beberapa persyaratan untuk melaksanakan TQM diantaranya: Komitmen dari manajemen puncak, adanya steering committee dari seluruh organisasi, perencanaan dan publikasi, dan pembentukan infrastruktur yang mendukung penyebarluasan dan perbaikan secara berkesinambungan.
Perkembangan masyarakat yang semakin kompetitif menuntut setiap orang untuk berkompetisi secara sehat. Demikian halnya dengan sebuah lembaga termasuk lembaga pendidikan kompetisi untuk merebut pasar menuntut setiap lembaga untuk mengedepankan kualitas dalam proses manajerialnya dan pembelajarannya. Dalam kaitannya dengan persoalan kualitas ini, sekarang telah berkembang sebuah pendekatan, khususnya dalam proses menejerial, yaitu apa yang disebut Total Quality Manajemen (TQM).
TQM dapat digunakan untuk menggambarkan dua gagasan yang agak berbeda tetapi saling berkaitan. Pertama, adalah filsafat perbaikan terus menerus. Kedua, arti yang saling berkaitan menggunakan TQM untuk menggambarkan alat dan teknik, seperti brainstorming dan analisis lapangan, dimana digunakan untuk meletakkan perbaikan kualitas ke dalam tindakan. TQM baik dalam konteks pikiran ataupun aktivitas praktis merupakan sikap dari pikiran dan metode perbaikan terus menerus .
Tulisan ini akan memaparkan seputar pendekatan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan. Secara sistematis, pemaparan akan difokuskan pada beberapa aspek, atara lain; pengertian dan beberapa pandangan mengenai Total Quality Management (TQM), TQM dalam pendidikan, implementasi TQM dalam pendidikan.
II. Pengertian dan Beberapa Pandangan Tentang TQM
Untuk memahami Total Quality Management, terlebih dahulu perlu dijabarkan pengertian kualitas (quality), kualitas terpadu (Total Quality) dan manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management).
A. Kualitas (Quality)
Istilah kualitas menjadi menderita karena sering digunakan untuk menggambarkan lambang-lambang seperti; kecantikan, kebaikan, kemahalan, kesegaran dan di atas semua itu, kemewahan. Karena itu, kualitas menjadi konsep yang sulit dimengerti dan hampir tidak mungkin ditangani. Bagaimana mungkin menangani sesuatu yang tidak jelas dan mempunyai arti demikian banyak .
Kualitas (quality) sering disama artikan dengan mutu. Kualitas sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sampai sekarang, baik di dunia industri barang atau industri jasa, belum ada definisi yang sama tentang kualitas. Goetsch dan Davis mengibaratkan bahwa kualitas itu seperti halnya pornografi, yaitu sulit didefinisikan, tetapi fenomenanya atau tanda-tandanya dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan nyata .
Setiap orang dan organisasi memiliki pengertian kualitas yang berbeda-beda. Misalnya Fred Smith, CEO General Expres mengartikan kualitas adalah kinerja standar yang diharapkan oleh pemakai produk atau jasa (customer). Menurut General Servis Administration (GSA) kualitas adalah pertemuan kebutuhan customer pada awal mula dan setiap saat. Sementara menurut W. Edward Deming, salah seorang pioner kualitas menyatakan bahwa kualitas itu memiliki banyak kriteria yang selalu berubah. Namun demikian, definisi kualitas yang diterima secara umum mencakup elemen-elemen berikut: 1)mempertemukan harapan pelanggan (customer), 2) menyangkut aspek produk, servis, orang, proses dan lingkungan, dan 3) kriteria yang selalu berkembang yang berarti bahwa sebuah produk sekarang termasuk berkualitas, tetapi di lain waktu mungkin tidak lagi berkualitas. Jadi, kualitas adalah sesuatu yang dinamis yang selalu diasosiasikan dengan produk, servis, orang, proses, dan lingkungan.
Menurut Edward Sallis, kualitas itu memang sesuatu yang tarik menarik antara sebagai konsep yang absolut dan relatif. Namun, ia menegaskan bahwa kualitas sekarang ini lebih digunakan sebagai konsep yang absolut. Karena itu, kualitas mempunyai kesamaan arti dengan kebaikan, keindahan, dan kebenaran; atau keserasian yang tidak ada kompromi. Standar kualitas itu meliputi dua, yaitu; kualitas yang didasarkan pada standar produk/jasa; dan kualitas yang didasarkan pada pelanggan (customer). Kualitas yang didasarkan pada produk/jasa, memiliki beberapa kualifikasi: 1) sesuai dengan spesifikasi, 2) sesuai dengan maksud dan kegunaannya, 3) tidak salah atau cacat, dan 4) benar pada saat awal dan selamanya. Sementara itu, kualitas yang didasarkan pada customer, mempunyai kualifikasi; 1) memuaskan pelanggan (costomer satisfaction), 2) melebihi harapan pelanggan, dan 3) mencerahkan pelanggan .
Prinsipnya, tiga guru kualitas, yaitu Philip Crosby, Edward Deming dan Joseph Juran menyatakan bahwa komitmen yang harus dibangun dalam setiap diri terhadap kualitas adalah pemahaman bahwa : Pertama, kualitas merupakan kunci ke arah program yang berhasil. Kurang perhatian terhadap kualitas akan mengakibatkan kegagalan dalam jangka panjang. Kedua, perbaikan-perbaikan kualitas menuntut komitmen menajemen sepernuhnya untuk dapat berhasil. Komitmen kepada kualitas ini harus terus-menerus. Ketiga, perbaikan kualitas adalah kerja keras. Tidak ada jalan pintas atau perbaikan cepat. Menuntut perbaikan budaya bagi organisasi secara keseluruhan. Keempat, perbaikan kualitas menuntut banyak pelatihan. Kelima, perbaikan kualitas menuntut keterlibatan semua karyawan secara aktif, dan komitmen mutlak dari manajemen senior .
Menurut Crosby, kemutlakan bagi kualitas adalah: 1) kualitas harus disesuaian sebagai kesesuaian terhadap kebutuhan-kebutuhan, bukan sebagai kebaikan, juga bukan keistimewaan, 2) sistem untuk menghasilkan kualitas adalah pencegahan bukan penilaian, 3) standar kerja harus tanpa cacat, bukan “cukup mendekati tanpa cacat”, 4) pengukuran kualitas merupakan harga ketidaksesuaian, bukan pedoman. Karena itu, menurut tokoh yang sangat terkemuka dengan gagasan kualitas ini, bahwa manajemen adalah penyebab setidak-tidaknya 80 % masalah-masalah kualitas di dalam organisasi. Karena itu, satu-satunya jalan memperbaikinya adalah melalui kepemimpinan manajemen.
Crosby memberikan “vaksin kualitas” (Quality vaccine), yaitu: 1) Tujuan: manajemen merupakan satu-satunya alat yang akan mengubah citra organisasi, 2) pendidikan: membantu semua komponen organisasi mengembangkan satu pengertian umum tentang kualitas dan memahami peran mereka masing-masing di dalam proses perbaikan kualitas, 3) penerapan: membimbing dan mengarahkan program perbaikan .
B. Kualitas Terpadu (Total Quality)
Tidak berbeda dengan definisi kualitas, bahwa definisi kualitas terpadu (total) juga memiliki pengertian yang bermacam-macam. Menurut Departemen Pertahanan Amerika, kualitas terpadu itu mencakup aktivitas perbaikan secara terus menerus yang melibatkan semua orang di dalam organisasi, baik manajer maupun semua staf-stafnya dalam berusaha secara terintegrasi mencapai kinerja yang terus meningkat pada setiap tingkatan.
Jadi, kualitas terpadu pada dasarnya adalah sebuah pendekatan untuk melakukan sesuatu yang berusaha untuk memaksimalkan keunggulan kompetitif organisasi melalui perbaikan terus menerus dalam hal produk, servis, orang, proses dan lingkungannya. Secara sistematis, kualitas total memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) dasar-dasar yang strategis, 2) fokus pada pelanggan (internal dan eksternal), 3) obsesi dengan kualitas, 4) pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan memecahkan masalah, 5) komitmen jangka panjang, 6) kerja tim, 7) perbaikan proses secara kontinyu, pendidikan dan pelatihan, 9) kebebasan yang terkontrol, 10) kesatuan tujuan, dan 11) pelibatan dan pemberdayaan tenaga.
C. Total Quality Management (TQM)
Pengertian kulitas terpadu seperti di atas, memberikan kerangka yang jelas bahwa hakekat Total Quality Management (TQM) atau manajemen kualitas terpadu sebenarnya adalah filosofi dan budaya (kerja) organisasi (phylosopy of management) yang berorentasi pada kualitas. Tujuan yang akan dicapai dalam organisasi dengan budaya TQM adalah memenuhi atau bahkan melebihi apa yang dibutuhkan (needs) dan yang diharapkan atau diinginkan (desire) oleh pelanggan.
Dengan demikian, TQM dapat diartikan sebagai pengelolaan kualitas semua komponen (stakehorder) yang berkepentingan dengan visi dan misi organisasi. Jadi, pada dasarnya TQM itu bukanlah pembebanan ataupun pemeriksaan. Tetapi, TQM adalah lebih dari usaha untuk melakukan sesuatu yang benar setiap waktu, daripada melakukan pemeriksaan (cheking) pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan. TQM bukan bekerja untuk agenda orang lain, walaupun agenda itu dikhususkan untuk pelanggan (customer) dan klien. Demikian juga, TQM bukan sesuatu yang diperuntukkan bagi menajer senior dan kemudian melewatkan tujuan yang telah dirumuskan .
“Total” dalam TQM adalah pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus-menerus. Sementara “manajemen” di dalam TQM berarti pengelolaan setiap orang yang berada di dalam organisasi, apapun status, posisi atau perannya. Mereka semua adalah manajer dari tanggung jawab yang dimilikinya.
Senada dengan pengertian ini, Lesley dan Malcolm menyatakan bahwa dalam TQM, maka semua fungsionaris organisasi, tanpa kecuali dituntut memiliki tiga kemampuan, yaitu : Pertama, mengerjakan hal-hal yang benar. Ini berarti bahwa hanya kegiatan yang menunjang bisnis demi memuaskan kebutuhan pelanggan yang dapat diterima. Kegiatan yang tidak perlu maka jangan dilanjutkan lagi. Kedua, mengerjakan hal-hal dengan benar. Ini berarti bahwa semua kegiatan harus dijalankan dengan benar, sehingga hasil kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Ketiga, mengerjakan hal-hal dengan benar sejak pertama kali setiap waktu. Hal ini dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah kesalahan yang timbul. Prinsipnya, menurut Lesley dan Malcolm, TQM itu merupakan suatu pendekatan sistematis terhadap perencanaan dan manajemen aktivitas, yang memiliki motto: Do the right think, first time, every time, yaitu “kerjakan sesuatu yang benar dengan benar, sejak pertama kali, setiap waktu”
Goetsch dan Davis memberikan beberapa karakteristik manajemen kualitas : 1) komitmen total pada peningkatan nilai secara kontinyu terhadap customer, investor dan tenaga (staf), 2) lembaga memahami dorongan pasar yang mengartikan kualitas bukan atas dasar kepentingan organisasi tetapi kepentingan customer, dan 3) komitmen untuk memimpin orang dengan perbaikan dan komunikasi terus-menerus.
Fandy Ciptono dan Anastasia menjelaskan bahwa prinsip dan unsur pokok dalam TQM, sebagai berikut :
Pertama, kepuasan pelanggan. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas itu ditentukan oleh pelanggan (internal maupun eksternal). Kepuasan pelanggan harus dipenuhi dalam segala aspek, termasuk harga, keamanan, dan ketepatan waktu.
Kedua, respek terhadap setiap orang. Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas tersendiri yang unik. Dengan begitu, setiap karyawan dipandang sebagai sumber daya organisasi yang paling bernilai. Karena itu, setiap karyawan dalam organisasi diperlakukan secara baik dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, berbartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.
Ketiga, manajemen berdasarkan fakta. Organisasi berorientasi pada fakta. Artinya bahwa setiap keputusan organisasi harus didasarkan pada data, bukan pada perasaan (feeling). Dua konsep pokok berkait dengan fakta; 1) prioritisasi (prioritization), yaitu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakaukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Dengan demikian, dengan menggunakan data, maka manajemen dan tim dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital. 2) variasi (variation), atau variabilitas kinerja manusia. Data dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari setiap system organisasi. Dengan demikian manajemen dapat memprediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
Keempat, perbaikan berkesinambungan.Perbaikan berkesinambungan merupakan hal yang penting bagi setiap lembaga. Konsep yang berlaku di sini adalah siklus PDCA (plan, do, check, act).
III. Konsep TQM dalam Industri dan Perdagangan
Amerika Serikat pernah menikmati situasi dimana standart hidupnya paling tinggi di dunia untuk jangka waktu 100 tahun. Mereka pernah menjadi pelopor dan pemimpin dalam perkembangan factor-faktor pendorong utama bagi peningkatan standar hidup, yaitu dalam perbaikan produktivitas, pertumbuhan, dan inovasi. Kemampuan pemanufakturan Amerika saat itu mampu memberikan basis ekonomi yang memungkinkan membangun masyarakat yang berstandar hidup terbaik di dunia. Akan tetapi sejak tahun 1980-an terjadi perubahan besar.
Amerika mulai kehilangan pasarnya, produktifitasnya tertinggal dari Jepang, tingkat pengangurannya meningkat dalam sektor manufaktur, dan posisi kompetitifnya semakin terkikis dalam pasar global. Semua ini merupakan gejala dari penurunan sektor industri Amerika. (Tjiptono dan Anastasia, 2003:8)
Pada mulanya Jepang hanya dalam mempromosikan produk di pasar global hanya mengandalkan harga murah atau pada aspek biaya sedangkan kualitas produk belum terlihat. Beberapa decade kemudian perusahaan- perusahaan Jepang menyadari bahwa kunci sukses di masa mendatang adalah kualitas. Oleh karena itu, Jepang sangat menaruh perhatian terhadap kualitas.
Berbagaikan upaya perbaikan dilakukan Jepang, misalnya mengirimkan tim khusus ke luar negeri untuk mempelajari pendekatan-pendekatan yang dilakukan perusahaan asing dan menerjemahkan literature asing yang terseleksi kedalam bahasa Jepang, mengundang dosen-dosen asing untuk dating ke Jepang dan memberikan kursus pelatihan kepada para manajernya. Jepang akhirnya menemukan strategi untuk menemukan revolusi dalam kualitas. Beberapa diantaranya adalah :
1. para manager tingkat atas secara personal mengambil alih pimpinan revolusi tersebut
2. semua level dan fungsi menjalani pelatihan untuk mengelola kualitas
3. perbaikan kualitas dilakukan dengan revolusioner dan terus-menerus
4. tenaga kerja dilibatkan dalam perbaikan kualitas melalui konsep pengendalian kualitas (Quality control)
Berkat usaha-usaha tersebut, maka pada pertengahan 1970-an kualitas barang-barang manufaktur Jepang, seperti mobil dan produk elektronika melampaui kualitas yang dihasilakan para pesaingnya dari Barat.
Dasar pemikiran perlunya TQM sangatlah sederhana, yakni bahwa cara terbaik agar dapat bersaing dan unggul dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan kualitas yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas terbaik diperlukan upaya perbaikan bekesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan. Cara terba agar dapat memperbaiki kemampuan komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan adalah dengan menerapkan TQM.
Penerapan TQM dalam suatu perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama yang pada ggilirannya meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang bersangkutan. Dengan melakukan perbaikan kualitas secara terus-menerus maka perusahaan dapat meningkatkan labanya melalui dua rute. Pertama rute pasar, dalam hal ini perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya sehingga pangsa pasarnya semakin besar dan harga jualnya dapat lebih tinggi. Kedua perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan melalui upaya perbaikan kualitas.
Dalam buku” Managing Quality”, Garvin (dalam Bounds, et al 1994; Lovelock, 1994; Tjipto dan Anastasia 2003: 28) mengungkapkan bahwa kualitas sebagai suatu konsep sudah lama dikenal, tetapi kemunculannya sebagai fungsi manajemen baru terjadi akhir-akhir ini. Ia membagi pendekatan modern terhadap kualitas kedalam empat era kualitas, yaitu inspeksi (pendekatan untuk mengukur kualitas produk berdasarkan kinerja sesungguhnya), pengendalian kualitas statistical, jaminan kualitas, dan manajemen kualitas strategic.
Ada beberapa konsep TQM dalam industri dan perdagangan yang dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya :
1. Total Qualiti Control (TQC) yang dikemukakan pada tahun 1956 oleh Armand Feigenbaum. Ia berpendapat bahwa pengendalian harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir hanya jika produk telah sampai ke tangan pelanggan yang puas.
2. Reliability engineering, muncul pada tahun 1950-an yang di dorong oleh kebutuhan Angkatan Bersenjata Amerika untuk memiliki peralatan elektronik dan senjata udara yang dapat diandalkan, bekerja dengan baik, menghindari kebutuhan untuk penggantian suku cadang yang mahal.
3. Zero defects, pertama kali dikemukakan oleh Martin Company pada tahun 1961-1962. konsep ini timbul karena kebutuhan pelanggan militer akan produk yang tidak hanya bekerja baik saat pertama kali, tetapi juga diserahkan tepat waktu. Konsep Zero defects lebih dipusatkan pada harapan manajemen dan hubungan antar pribadi daripada keterampilan rekayasa.
4. konsep teori Y dan Scanlon Plan, konsep ini mendorong manajer untuk menawarkan wewenang yang lebih besar kepada karyawan.
IV. Nilai-Nilai Kepemimpinan Pendidikan Tinggi di Indonesia
Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut kedalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik (Edwar Salis, 2008:189)
Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan keinginan dan hasrat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menetukan mutu dalam sebuah institusi adalah kepemimpinan. Mereka perpendapat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu, gaya tersebut mereka namakan MBWA (Management by Walking About) atau manajemen dengan melaksanakan.
Peter dan Austin memberi pertimbangan spesifik pada kepemimpinan pendidikan yaitu dengan menekankan pentingnya pemimpin yang unggul dalam mencapai mutu. Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini:
1. Visi dan symbol-simbol. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas
2. MBWA (Management by Walking About) adalah gaya kpemimpinan yang dibutuhkan oleh sebuah institusi
3. Untuk para pelajar, istilah ini sama dengan dekat degan pelanggan dalam pendidikan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki focus yang jelas terhadap pelanggan utamanya
4. Otonomi, eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan besiap-siap mengantisipasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut
5. Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar, orang tua, guru, dan staf institusi
6. Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas, dan antusiasme. Sifat-siat tersebut merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.
Sebagaimana yang ditekankan oleh para pakar diatas, bahwa komitmen mutu harus menjadi peran utama bagi seorang pemimpin, karena TQM adalah proses dari atas ke-bawa (top-down), dimana para pemimpin harus mampu mengorganisasikan serta menghendel bawahannya untuk mengembangkan mutu serta kualitas sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi pelanggan, dalam hal ini peserta didik sebagai subyek.
Di Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan baik pada institusi pendidikan maupun pada institusi-institusi pemerintahan lainnya belum terlihat kerja sama yang baik antara pemimpin dengan staf. Hal ini dikarenakan para pemimpin tidak dapat mengajak para stafnya untuk bekerjasama dalam mengembangkan mutu serta kualitas pelayanan karena pada dasarnya fungsi pemimpin adalah mempertinggi mutu dan mendukung para staf yang menjalankan roda mutu tersebut.
Dengan demikian nilai kepemimpinan pendidikan di Indonesia baik pada pendidikan tinggi maupun pendidikan pada umunya masih sangat jauh dengan penidikan di Eropa maupun di Asia. Hal ini kita lihat dengan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia di banding Negara-negara lain di Asia.
V. TQM dan Manajemen Pendidikan Tinggi di Indonesia
TQM adalah konsep manajemen yang mampu menyesuaikan diri dengan baik dalam filosofi umum, meskipun memang masih kurang dipraktekkan dalam dunia pendidikan karena memang tergolong baru. Sedangkan manajemen adalah upaya efektif dan efisiensi dengan mengeluarkan dana yang sedikit untuk mendapatkan penghasilan yang besar, dalam dunia pendidikan manajemen diartikan sebagai upaya pengorganisasian institusi pendidikan untuk mampu memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas dimana pelanggan atau peserta didik dapat menikmati dengan nilai materi yang terjangkau.
TQM dan manajemen merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, karena kalau kita membicarakan mutu kualitas total tentu didalamnya ada peran manajemen sebagai upaya pengimplementasian daripada TQM tersebut.
Institusi yang efektif membutuhkan strategi-strategi yang bertujuan dan kuat agar mampu meraih hasil yang kompetitif, institusi memerlukan proses untuk mengembangkan strategi mutunya, yang mencakup:
a. Visi dan Misi yang jelas dan distingtif;
b. Focus pelanggan yang jelas;
c. Keterlibatan seluruh pelanggan, baik internal maupun eksternal dalam mengembangkan strategi;
d. Pemberdayaan staf dengan cara menghilangkan kendala dan membantu mereka dalam memberi kontribusi maksimum pada institusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif;
e. Penilaian dan evaluasi efektifitas institusi dalam mencapai tujuan yang berhubungan dengan pelanggan.
Dalam intitusi pendidikan maupun perusahaan-perusahaan, beberapa langkah-langkah penting dan sederhana dan dapat diikuti dalam mengembangkan mutunya yaitu:
1. kepemimpinan dan komitmen terhadap mutu harus dating dari atas. Seluruh tokoh mutu menekankan bahwa tanpa dukungan dari manajemen senior, maka sebuah inisiatif mutu tidak akan bertahan lama.
2. mengembirakan pelanggan adalah tujuan TQM. Hal ini dapat dicapai dengan usaha yang terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan baik eksternal maupun internal
3. menunjuk fasilitator mutu sebagai pengendali mutu dalam mengembangkan program mutu serta mempublikasikan mutu
4. membentuk kelompok pengendali mutu. Perannya adalah untuk mengarahkan dan mendorong proses peningkatan mutu, mengembangkan ide sekaligus sebagai inisiator proyek
5. menunjuk coordinator mutu. Perannya adalah untuk membantu dan membimbing tim dalam menemukan cara baru dalam menengani dan memecahkan masalah
6. mengadakan seminar manajemen senior untuk mengevaluasi program
7. menganalisa dan mendiagnosa situasi yang ada, dalam hal ini institusi perlu menjelaskan arah dan tujuan yang ingin dicapai
8. menggunakan contoh-ontoh yang sudah berkembang ditempat lain
9. mempekerjakan konsultan eksternal
10. memprakarsai pelatihan mutu bagi para staf
11. mengkomunikasikan pesan mutu
12. mengukur biaya mutu
13. mengaplikasikan alat dan teknik mutu melalui pengembangan kelomok kerja yang efektif, dan
14. mengevaluasi program dalam interval yang teratur
Beberapa hal di atas harus menjadi perhatian serius dalam memanajemen pendidikan tinggi di Indonesia agar pencapaian mutu dapat terealisasikan sehingga tercipta sebuah institusi yang unggul baik internal yang berkaitan dengan penataan, pelayanan, serta komplektisitas yang dibutuhkan maupun ekternal yang berkaitan dengan outputnya dan kepuasan pelanggan atau pengguna jasa.
VI. Contoh Aplikasi TQM di Beberapa Lembaga Pendidikan Tinggi Indonesia
Di beberapa pendidikan tinggi di Indonesia sedang berusaha mengembangan TQM. Hal ini dilakukan dengan cara menata system organisasi dengan baik serta memahami kebutuhan peserta didik dalam jangka panjang. Sebagai contoh aplikasi dari pada TQM tersebut adalah pada saat proses belajar mengajar, dimana guru maupun dosen menggunakan Laptop, LCD, selain itu di masing-masing ruangan di berikan kamera peninjau sehingga dengan mudah dapat diketahui bagaimana proses berlangsung. Dalam lingkungan internal lainnya adalah sekolah maupun pendidikan tinggi menciptakan berbagai macam kebutuhan fasilitas seperti gedung yang memadai, guru/dosen yang kompeten, penataan organisasi yang moderen, serta disediakannya infrastruktur pendukung seperti lapangan olahraga, tempat khusus kegiatan siswa/mahasiswa, dan sarana prasarana yang mendukung.
VII. Implikasi TQM dalam Meningkatkan Pendidikan
Insitusi yang efektif memerlukan strategi yang kuat dan maksud tertentu untuk menghadapi suasana kompetitif dan orientasi di masa depan. Untuk menjadi efektif di dalam masa sekarang, intitusi memerlukan proses pengembangan strategi kualitas, antara lain ; 1) misi yang jelas dan tertentu, 2) menfokuskan kustomer secara jelas, 3) strategi untuk pencapaian misi, 4) pelibatan semua kustomer, baik internal maupun eksternal, di dalam pengembangan strategi, 5) penguatan staff dengan menggerakkan penghalang dan bantuan untukmembuat konstribusi maksimal terhadap institusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif, 6) penilaian dan evaluasi keefektifan insitusi menghadapi tujuan yang diharapkan oleh kustomer.
Untuk memulai mengimplementasikan manajemen kualitas total adalah sebuah tugas yang sulit. Terdapat sejumlah langkah yang simple dan penting untuk mengimplementasikan TQM dalam pendidikan, yaitu sebagai berikut :
1. Kepemimpinan dan komitmen terhadap kualitas harus datang dari atas “Hukum besi” dari kualitas. Semua model kualitas menekankan bahwa tanpa dorongan dari manajer senior inisiatif kualitas tidak akan berlangsung lama. Pendidikan tidak terkecuali berlaku juga hukum besi. Pimpinan sekolah harus menunjukkan komitmen yang kuat dan terus-menerus dan memimpin jalan sambil mendorong kepala sekolah, wakil kepela sekolah dan supervisor lain untuk melakukan usaha secara serius.
2. Menyenangkan kustomer Ini dicapai dengan kerja keras secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan kustomer. Kebutuhan kustomer diditentukan oleh pencarian secara reguler pandangan mereka. Terdapat bermacam-macam metode dari pekerjaan ini, seperti – memfokuskan kelompok, kuesioner, kelompok penasehat, hari yangterbuka dan percakapan informal dengan orang-orang.
3. Menunjuk fasilitator berkualitas. Pengabaian terhadap posisi aktual dari seseorang di dalam hirarkhi adalah penting bahwa fasilitator yang ditunjuk harus melaporkan secara langsung kepada kepala sekolah. Ini adalah pertangung jawaban dari fasilitator untuk mempublikasikan program dan mengarahkan kelompok pengarah yang berkualitas di dalam pengembangan program yang berkualitas.
4. Membentuk kelompok pengarah yang berkualitas. Kelompok ini harus mewakili kepentingan dan harus memiliki perwakilan dari tim nanajer senior. Peranannya adalah untuk mendorong dan membantu proses perbaikan kualitas. Baik sebagai pusat gagasan ataupun inisiator proyek.
5. Mengangkat koordinator yang berkualitas Ini berguna di dalam banyak inisiatif untuk memiliki orang-orang yang punya waktu untuk melatih dan penasehat orang lain.
6. Mengadakan seminar manajemen senior untuk mengevaluasi perkembangan. Tim manajemen senior tidak akan komit terhadap proses kalau mereka mengatakan dengan baik tentang filsafat dan metode. Ini penting untuk membangun tim manajemen senior yang sehat dan teritegrasi secara baik.
7. Menganalisa dan mendiagnosis situasi terkini, hal ini penting dan tidak harus disepelekan karena memberikan arah dari proses secara keseluruhan. Semua institusi perlu menjadi jelas kemana mereka akan berjalan.
8. Menggunakan model di tempat lain yang telah berkembang ini dapat diadaptasi dari pekerjaan dari seorang “guru” berkualitas, model pendidikan secara khusus, atau satu perusahaan lokal yang bisa diadaptasi.
9. Menempatkan konsultan eksternal, ini mulai sangat popular pada perusahaan industri, khususnya yang menerapkan BS5750 atau ISO9000.
10. Memulai training staf tentang kualitas pengembangan staf dapat dilihat sebagai jalan penting untuk membangun kesadaran dan pengetahuan yang berkualitas. Hal ini dapat menjadi kunci agen perubahan strategis untuk pengembangan budaya berkualitas. Ini juga penting di dalam tahap awal implementasi bahwa setiap orang dilatih di dalam dasar-dasar TQM. Staf perlu pengetahuan banyak mengenai alat-alat kunci termasuk pembentukan teamwork, metode evaluasi, problem solving dan teknik pemecahan masalah.
11. Mengkomunikasikan pesan-pesan kualitas,strategi, relevansi dan kegunaan dari TQM perlu terkomunikasikan secara efektif. Terdapat banyak sekali kesalahpahaman seputar tujuan dari kualitas. Sifat alamiah jangka panjang dari program perlu dibuat jelas. Pengembangan staf, training dan pembangunan tim adalah beberapa dari jalan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
12. Menerapkan peralatan dan teknik berkualitas melalui pengembangan kelompok kerja secara efektif. Pendekatan ini memfokuskan pada upaya mendapatkan sesuatu yang dilakukan untuk mencapai kesuksesan sejak awal. Ini memfokuskan pada sesuatu bahwa institusi mengetahui harus melakukan perbaikan, dan menyeleksi alat-alat yang benar untuk mengontrolnya. Memulai proses TQM dengan menangani pokok problem dengan menghindari kelumpuhan TQM. Tatkala menata tim aksi perbaikan atau kelompok tugas adalah penting untuk mengenal bahwa banyak isu dapat hanya dikontrol dengan tim perbaikan lintas organisasi.
13. Mengevaluasi program secara regular. Program TQM yang keluar dari inti TQM atau menjadi keluar rel. Pandangan dan evaluasi reguler perlu menjadi bagian integral dari program. Kelompok pengarah harus menangani pandangan per semester dan tim manajemen senior harus mempertimbangkan laporan mereka dan melakukan monitoring.
Persyaratan Implementasi TQM
Untukmelakukan suatu perubahan seringkali tidak mudah, apalagi bila mangkut perubahan yang besifat fundamental dan menydluruh. Biasanya setiap perubahan pasti menghadapi penolakan. Berkaitan dengan perubahan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhaiakn, yaitu:
a. Perubahan sulit berhasil bila manajemen puncak tidak menginformasikan proses perubahan secara terus-menerus kepada para karyawanya.
b. Persepsi karyawan atau interpretasinya terhadap perubahan. Karyawan akan mendukung perubahan bila mereka merasa bahwa manfaat dari perubahan akan lebih besar daripada biaya yang ditimbulkan (terutama personal cost).
Guna mengatasi dua hal diatas, maka seorang manajer sangat diharapkan untuk memberikan sebanyak mungkin informasi mengenai setiap perubahan kepada para karyawannya, menyapaikan alasan atau dasar pemikiran perlunya dilakukan perubahan, melakukan pertemuan tertentu dengan karyawan untuk membahas setiap perubahan dan kemungkinan pengaruhnya terhadap mereka.
Ada beberapa persyaratan untuk melaksanakan TQM diantaranya: Komitmen dari manajemen puncak, adanya steering committee dari seluruh organisasi, perencanaan dan publikasi, dan pembentukan infrastruktur yang mendukung penyebarluasan dan perbaikan secara berkesinambungan.
reviev tentang internet
1)INTERNET
Pengertian Internet
Istilah Internet berasal dari bahasa latin ”inter” yang berarti ”antara”. Internet dapat diartikan jaringan komputer luas yang menghubungkan pemakai komputer satu komputer lainnya dan dapat berhubungan dengan komputer dari suatu Negara ke Negara di seluruh dunia, di mana di dalamnya terdapat berbagai aneka ragam informasi fasilitas layanan internet.
Sejarah Terbentuknya Internet
Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan di sisi lain memudahkan kerjasama antar badan riset di seluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah ARPANet.
Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data, bertambahnya komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan. Untuk itu dibuat Internetting Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam ARPANet., agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan lalu lintas jaringan tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.
Cara Mengakses Internet
1)Sambungan Langsung ke Network
Seseorang dapat menggunakan sebuah komputer yang secara langsung mempunyai hubungan ke INTERNET. Sebagai contoh, seseorang mungkin menggunakan sebuah PC yang merupakan bagian dari sebuah jaringan komputer yang mempunyai hubungan ke INTERNET. Dalam kasus ini, sistem seseorang menjadi host INTERNET penuh, yaitu mempunyai alamat elektronik sendiri.
2) Sambungan dengan menggunakan SLIP/PPP
Untuk menggunakan hubungan dial-up, seseorang memerlukan sebuah alat untuk mengkonversi sinyal komputer (digital) menjadi sinyal telepon (analog), dan sebaliknya. Alat untuk mengkonversi sinyal digital ke sinyal analog disebut Modulator, sedangkan alat untuk mengkonversikan sinyal analog ke sinyal digital disebut Demodulator. Untuk mengakses ke INTERNET melalui hubungan telepon, seseorang memerlukan sebuah modem (modulator-demodulator). Selain itu diperlukan juga TCP/IP dan software SLIP atau PPP seperti Linux, Warp dan lain-lain.
3) Sambungan langsung ke On-Line Service seperti BBS, Compuserve.
Untuk menjadi sebuah host INTERNET tanpa harus memiliki hubungan full-time ke INTERNET (yang umumnya sangat mahal), ada sebuah cara mensetup sebuah host INTERNET melalui hubungan telepon. Untuk melakukan hal tersebut, seseorang perlu mengadakan perjanjian dengan sebuah host INTERNET yang lain yang bertindak sebagai titik hubungan. Selanjutnya, diperlukan sejumlah program yang disebut sebagai PPP (Point to Point Protocol) dan SLIP (Serier Line Internet Protocol) melalui jalur telepon, PPP menyediakan TCP?IP untuk workstation tersebut.
Pelayanan Utama dalam Internet
Software yang mendukung internet menyediakan banyak pelayanan teknis. Bagian ini akan membahas 4 pelayanan INTERNET yang paling penting dan mendasar:
1. Pelayanan Mail
Pelayanan untuk mengirim dan menerima pesan-pesan. Setiap pesan yang dikirim dari satu sistem ke sistem-sistem yang lain menuju tujuan akhir. Di belakang layar, pelayanan mail memastikan bahwa pesan-pesan yang dikirim dan diterima secara lengkap pada alamat yang benar.
2. Pelayanan Telnet
Pelayanan yang memberikan kesempatan anda menghubungi sistem remote atau sistem yang terletak di tempat yang jauh. Sebagai contoh, anda dapat menggunakan telnet untuk menghubungi sebuah host/provider di negara lain. setelah anda menghubungi host tersebut, anda dapat login ke host tersebut (usename dan password yang sah). Setelah itu anda dapat bertukar data melalui INTERNET.
3. PelayananFile Transfer protocol (FTP)
Pelayanan tranfer file dari satu sistem ke sistem lain. dalam INTERNET, anda dapat mentranfer file dari host ke sebuah host remote. Proses ini disebut uploading, dan sebaliknya jika anda mentransfer file dari host remote ke host lokal disebut downloading.
4. Pelayanan Client/Server
Program Client meminta dukungan program Server. Sebagai contoh, Gopher Client menampilkan menu, setelah anda memilih perintah-perintah dalam menu, Gopher Client menghubungi Gopher Server yang sesuai (tidak peduli di mana lokasi dalam INTERNET) dan meneksekusi permintaan anda.
Jenis-jenis Layanan Internet
a. Electronic Mail (E-mail)
Fungsi: Mengirim atau menerima surat ke/dari seluruh penjuru dunia.
Sebagai pemakai INTERNET, Anda dapat mengirim dan menerima pesan dari pemakai INTERNET lain dari berbagai penjuru dunia. Namum selain pesan-pesan pribadi, dengan E-mail dapat juga mengirim dan menerima file binary. Maka secara virtual Anda dapat mengirim dan menerima segala tipe data. Sistem mail INTERNET adalah tulang punggung (dan motivasi awal) dari Internet itu sendiri.
b. File Tranfer Protokol (FTP)
Fungsi: Mengirim dan menerima file antar host dari seluruh penjuru dunia.
Anonymous FTP memungkinkan pengaksesan ke server. FTP dengan login anonymous tanpa memerlukan password. Anonymous FTP adalah salah satu dari pelayanan dalam Internet yang cukup penting. Dengan akses ke berbagai anonymous FTP, Anda dapat memperoleh file-file secara grafis. Anda dapat menemukan program-program, gambar-gambar, majalah elektronik, artikel-artikel dalam kelompok diskusi tertentu. Salah satu program FTP adalah WS_FTP.
c. Tele Networking (TelNet)
Fungsi: Mengakses komputer (host/server) dari jauh/Remote login. Telnet adalah program yang memungkinkan komputer kita menjadi terminal dari komputer lain di Internet. Telnet memungkinkan kkita untuk masuk (log in) sebagai pemakai komputer jarak jauh dan menjalankan program komputer layanan yang ada di komputer tersebut.
d. User’s Network (Use Net)
UseNet adalah sistem kelompok diskusi di mana artikel-artikel di distribusikan ke seluruh dunia. UseNet memiliki ribuan kelompok diskusi, sehingga tidak heran jika UseNet meliputi segala macam topik yang mungkin anda inginkan.
e. World Wide Web (WWW)
Sering disebut ”The WEB atau W3”, merupakan system dalam internet yang memiliki fasilitas pencarian dan pemberian informasi yang cepat dengan menggunakan teknologi hypertex. Di WWW, struktur sumber daya Internet dapat dibandingkan dengan jaring laba-laba. Bila dilihat polanya, jaringan ini terdiri atas lingkaran-lingkaran berbagai ukuran yang berupa pada titik tengah yang sama. Dari titik tengah ini terbentuk garis-garis penghubung yang tegak lurus pada lingkaran, sehingga terdapat titik simpul. Bila pada struktur pohon percabangan merupakan jalur hubungan, pada web semua garis merupakan jalur hubungan setiap titik simpul yang mengandung data.
f. Internet Relay Chat (IRC)
Internet Relay Chat/IRC merupakan fasilitas untuk komunikasi langsung dengan menggunakan keyboard. Anda dapat ambil bagian dalam komunikasi publik dengan sekelompok orang. Atau, jika Anda inginkan, Anda dapat menggunakan IRC untuk mengatur komunikasi pribadi dengan orang-orang tertentu, yaitu sejenis teleconference.
g. Internet Phone/Conference
Fasilitas untuk melakukan percakapan jarak jauh via INTERNET. Untuk itu diperlukan aplikasi khusus dan dukungan hardware multi media.
h. WAIS Server
WAIS (Wide Area Information Service) menyediakan cara lain untuk menemukan informasi yang tersebar dalam INTERNET. WAIS mampu mengakses segala database yang besar (seperti dokumen, file berisi gambar, video dan suara).
Beberapa Istilah Internet
American OnLine (AOL)
Layanan komersial yang menyediakan browser Internet-nya sendiri.
Browser
Aplikasi yang ada di komputer anda, mirip dengan aplikasi pengolah kata atau aplikasi lain, yang dirancang untuk membaca tipe file data tertentu. Untuk mengakses WWW, anda membutuhkan program software internet browser ini.
CU-See Me
Aplikasi yang memungkinkan konferensi video pada Internet.
Cyberspace
Tempat virtual di mana orang dapat berkomunikasi dan bertemu.
Domain Name
Bagian yang membentuk IP address pada Internet. Domain name terdiri dari dua bagian atau lebih yang terpisah oleh tanda titik. Bagian paling kiri adalah bagian yang paling penting, menunjukkan tujuannya. Contoh: WWW menunjukkan Web Server Mail. Sembarang Domain Name akan “melebur” menjadi hanya satu IP address yang unik untuk setiap mesin. Bagian sebelah kanan menunjukkan tipe site. Contoh: gov menunjukkan Negara asal site, misalnya id meninjukkan Negara Indonesia.
E-Mail
Mirip surat pos, tetapi dikirimkan secara elektronik, sehingga tiba di tempat tujuan nyaris dalam tempo seketika itu juga. E-Mail yang berisikan pesan dikirim ke komputer anda dan akan terus ada di komputer itu sampai anda mengambilnya (membuka, menyimpan atau membuangnya).
Eudora
Aplikasi e-mail desktop yang populer karena lingkungan grafis dan kemampuannya untuk bekerja di hampir semua jenis server (PC maupun Macintosh).
FAQ
Frequently Asked Questions merupakan daftar yang memuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan tentang topik tertentu.
FTP (File Transfer Protocol)
Program yang digunakan pada komputer berbasis Windows untuk mentransfer file (software atau dokumen) pada Internet.
GIF (Graphics Interchange Format)
Jenis image yang seringkali dipakai pada web pages karena kemampuannya untuk me-render warna latar belakang sebagai transparan.
Gopher
Program berbasis teks yang digunakan untuk mem-browser daftar menu Internet pada berbagai Server Gopher.
Home Page
Halaman-halaman yang menampung berbagai informasi dari suatu perusahaan, institusi atau pribadi. Contoh: White House, Home Page berisiskan informasi politik kebijakan Presiden AS.
HTML
HyperText Markup Language- Bahasa standar yang digunakan browser Internet untuk membuat halaman dan dokumen yang di pajang pada Web. Selain memungkinkan komputer berkomunikasi, HTML juga menyediakan link di antara file-file yang ada di komputer yang berbeda dan dipisahkan oleh jarak yang jauh.
HTTP
HyperText Transfer Protocol- Protokol yang memungkinkan bermacam-macam komputer yang saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa HTML.
HyperLink
Bagian dari Web page yang menghubungkan Anda ke file lain, menyediakan seamless link (hubungan) ke file-file pada komputer lain. Biasa dikenal sebagai link. Mengklik hyperlink berarti mem-browse WWW dan mengunjungi berbagai likasi.
Hypermedia document
File data berisi banyak informasi yang dikirimkan melalui Internet ke komputer Anda dan dimunculkan secara grafis dalam cara yang user friendly.
HyperText
Salah satu cara untuk me-link banyak file. Teks yang mengandung hyperText biasanya digarisbawahi. Untuk melihat ‘kait’nya Anda cukup mengklik pada teks tersebut.
2) APLIKASI OFFICE DI MKPP
Dalam proses pembelajaran terutama di jurusan MKPP (Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan) sangat diperlukan kejelihan kita dalam penggunaan office karena itu sangat diperlukan lebih kelancaran proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Aplikasi Office dalam Proses Pembelajaran, antara lain:
1) Microsoft Office Word digunakan untuk mengerjakan atau mengetik berbagai tugas-tugas yang ada yang telah diberikan oleh dosen.
2) Microsoft Office PowerPoint digunakan untuk memprsentasikan makalah atau laporan.
3) Microsoft Office Excel digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan penghitungan (statitika).
Pengertian Internet
Istilah Internet berasal dari bahasa latin ”inter” yang berarti ”antara”. Internet dapat diartikan jaringan komputer luas yang menghubungkan pemakai komputer satu komputer lainnya dan dapat berhubungan dengan komputer dari suatu Negara ke Negara di seluruh dunia, di mana di dalamnya terdapat berbagai aneka ragam informasi fasilitas layanan internet.
Sejarah Terbentuknya Internet
Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan di sisi lain memudahkan kerjasama antar badan riset di seluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah ARPANet.
Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data, bertambahnya komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan. Untuk itu dibuat Internetting Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam ARPANet., agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan lalu lintas jaringan tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.
Cara Mengakses Internet
1)Sambungan Langsung ke Network
Seseorang dapat menggunakan sebuah komputer yang secara langsung mempunyai hubungan ke INTERNET. Sebagai contoh, seseorang mungkin menggunakan sebuah PC yang merupakan bagian dari sebuah jaringan komputer yang mempunyai hubungan ke INTERNET. Dalam kasus ini, sistem seseorang menjadi host INTERNET penuh, yaitu mempunyai alamat elektronik sendiri.
2) Sambungan dengan menggunakan SLIP/PPP
Untuk menggunakan hubungan dial-up, seseorang memerlukan sebuah alat untuk mengkonversi sinyal komputer (digital) menjadi sinyal telepon (analog), dan sebaliknya. Alat untuk mengkonversi sinyal digital ke sinyal analog disebut Modulator, sedangkan alat untuk mengkonversikan sinyal analog ke sinyal digital disebut Demodulator. Untuk mengakses ke INTERNET melalui hubungan telepon, seseorang memerlukan sebuah modem (modulator-demodulator). Selain itu diperlukan juga TCP/IP dan software SLIP atau PPP seperti Linux, Warp dan lain-lain.
3) Sambungan langsung ke On-Line Service seperti BBS, Compuserve.
Untuk menjadi sebuah host INTERNET tanpa harus memiliki hubungan full-time ke INTERNET (yang umumnya sangat mahal), ada sebuah cara mensetup sebuah host INTERNET melalui hubungan telepon. Untuk melakukan hal tersebut, seseorang perlu mengadakan perjanjian dengan sebuah host INTERNET yang lain yang bertindak sebagai titik hubungan. Selanjutnya, diperlukan sejumlah program yang disebut sebagai PPP (Point to Point Protocol) dan SLIP (Serier Line Internet Protocol) melalui jalur telepon, PPP menyediakan TCP?IP untuk workstation tersebut.
Pelayanan Utama dalam Internet
Software yang mendukung internet menyediakan banyak pelayanan teknis. Bagian ini akan membahas 4 pelayanan INTERNET yang paling penting dan mendasar:
1. Pelayanan Mail
Pelayanan untuk mengirim dan menerima pesan-pesan. Setiap pesan yang dikirim dari satu sistem ke sistem-sistem yang lain menuju tujuan akhir. Di belakang layar, pelayanan mail memastikan bahwa pesan-pesan yang dikirim dan diterima secara lengkap pada alamat yang benar.
2. Pelayanan Telnet
Pelayanan yang memberikan kesempatan anda menghubungi sistem remote atau sistem yang terletak di tempat yang jauh. Sebagai contoh, anda dapat menggunakan telnet untuk menghubungi sebuah host/provider di negara lain. setelah anda menghubungi host tersebut, anda dapat login ke host tersebut (usename dan password yang sah). Setelah itu anda dapat bertukar data melalui INTERNET.
3. PelayananFile Transfer protocol (FTP)
Pelayanan tranfer file dari satu sistem ke sistem lain. dalam INTERNET, anda dapat mentranfer file dari host ke sebuah host remote. Proses ini disebut uploading, dan sebaliknya jika anda mentransfer file dari host remote ke host lokal disebut downloading.
4. Pelayanan Client/Server
Program Client meminta dukungan program Server. Sebagai contoh, Gopher Client menampilkan menu, setelah anda memilih perintah-perintah dalam menu, Gopher Client menghubungi Gopher Server yang sesuai (tidak peduli di mana lokasi dalam INTERNET) dan meneksekusi permintaan anda.
Jenis-jenis Layanan Internet
a. Electronic Mail (E-mail)
Fungsi: Mengirim atau menerima surat ke/dari seluruh penjuru dunia.
Sebagai pemakai INTERNET, Anda dapat mengirim dan menerima pesan dari pemakai INTERNET lain dari berbagai penjuru dunia. Namum selain pesan-pesan pribadi, dengan E-mail dapat juga mengirim dan menerima file binary. Maka secara virtual Anda dapat mengirim dan menerima segala tipe data. Sistem mail INTERNET adalah tulang punggung (dan motivasi awal) dari Internet itu sendiri.
b. File Tranfer Protokol (FTP)
Fungsi: Mengirim dan menerima file antar host dari seluruh penjuru dunia.
Anonymous FTP memungkinkan pengaksesan ke server. FTP dengan login anonymous tanpa memerlukan password. Anonymous FTP adalah salah satu dari pelayanan dalam Internet yang cukup penting. Dengan akses ke berbagai anonymous FTP, Anda dapat memperoleh file-file secara grafis. Anda dapat menemukan program-program, gambar-gambar, majalah elektronik, artikel-artikel dalam kelompok diskusi tertentu. Salah satu program FTP adalah WS_FTP.
c. Tele Networking (TelNet)
Fungsi: Mengakses komputer (host/server) dari jauh/Remote login. Telnet adalah program yang memungkinkan komputer kita menjadi terminal dari komputer lain di Internet. Telnet memungkinkan kkita untuk masuk (log in) sebagai pemakai komputer jarak jauh dan menjalankan program komputer layanan yang ada di komputer tersebut.
d. User’s Network (Use Net)
UseNet adalah sistem kelompok diskusi di mana artikel-artikel di distribusikan ke seluruh dunia. UseNet memiliki ribuan kelompok diskusi, sehingga tidak heran jika UseNet meliputi segala macam topik yang mungkin anda inginkan.
e. World Wide Web (WWW)
Sering disebut ”The WEB atau W3”, merupakan system dalam internet yang memiliki fasilitas pencarian dan pemberian informasi yang cepat dengan menggunakan teknologi hypertex. Di WWW, struktur sumber daya Internet dapat dibandingkan dengan jaring laba-laba. Bila dilihat polanya, jaringan ini terdiri atas lingkaran-lingkaran berbagai ukuran yang berupa pada titik tengah yang sama. Dari titik tengah ini terbentuk garis-garis penghubung yang tegak lurus pada lingkaran, sehingga terdapat titik simpul. Bila pada struktur pohon percabangan merupakan jalur hubungan, pada web semua garis merupakan jalur hubungan setiap titik simpul yang mengandung data.
f. Internet Relay Chat (IRC)
Internet Relay Chat/IRC merupakan fasilitas untuk komunikasi langsung dengan menggunakan keyboard. Anda dapat ambil bagian dalam komunikasi publik dengan sekelompok orang. Atau, jika Anda inginkan, Anda dapat menggunakan IRC untuk mengatur komunikasi pribadi dengan orang-orang tertentu, yaitu sejenis teleconference.
g. Internet Phone/Conference
Fasilitas untuk melakukan percakapan jarak jauh via INTERNET. Untuk itu diperlukan aplikasi khusus dan dukungan hardware multi media.
h. WAIS Server
WAIS (Wide Area Information Service) menyediakan cara lain untuk menemukan informasi yang tersebar dalam INTERNET. WAIS mampu mengakses segala database yang besar (seperti dokumen, file berisi gambar, video dan suara).
Beberapa Istilah Internet
American OnLine (AOL)
Layanan komersial yang menyediakan browser Internet-nya sendiri.
Browser
Aplikasi yang ada di komputer anda, mirip dengan aplikasi pengolah kata atau aplikasi lain, yang dirancang untuk membaca tipe file data tertentu. Untuk mengakses WWW, anda membutuhkan program software internet browser ini.
CU-See Me
Aplikasi yang memungkinkan konferensi video pada Internet.
Cyberspace
Tempat virtual di mana orang dapat berkomunikasi dan bertemu.
Domain Name
Bagian yang membentuk IP address pada Internet. Domain name terdiri dari dua bagian atau lebih yang terpisah oleh tanda titik. Bagian paling kiri adalah bagian yang paling penting, menunjukkan tujuannya. Contoh: WWW menunjukkan Web Server Mail. Sembarang Domain Name akan “melebur” menjadi hanya satu IP address yang unik untuk setiap mesin. Bagian sebelah kanan menunjukkan tipe site. Contoh: gov menunjukkan Negara asal site, misalnya id meninjukkan Negara Indonesia.
Mirip surat pos, tetapi dikirimkan secara elektronik, sehingga tiba di tempat tujuan nyaris dalam tempo seketika itu juga. E-Mail yang berisikan pesan dikirim ke komputer anda dan akan terus ada di komputer itu sampai anda mengambilnya (membuka, menyimpan atau membuangnya).
Eudora
Aplikasi e-mail desktop yang populer karena lingkungan grafis dan kemampuannya untuk bekerja di hampir semua jenis server (PC maupun Macintosh).
FAQ
Frequently Asked Questions merupakan daftar yang memuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan tentang topik tertentu.
FTP (File Transfer Protocol)
Program yang digunakan pada komputer berbasis Windows untuk mentransfer file (software atau dokumen) pada Internet.
GIF (Graphics Interchange Format)
Jenis image yang seringkali dipakai pada web pages karena kemampuannya untuk me-render warna latar belakang sebagai transparan.
Gopher
Program berbasis teks yang digunakan untuk mem-browser daftar menu Internet pada berbagai Server Gopher.
Home Page
Halaman-halaman yang menampung berbagai informasi dari suatu perusahaan, institusi atau pribadi. Contoh: White House, Home Page berisiskan informasi politik kebijakan Presiden AS.
HTML
HyperText Markup Language- Bahasa standar yang digunakan browser Internet untuk membuat halaman dan dokumen yang di pajang pada Web. Selain memungkinkan komputer berkomunikasi, HTML juga menyediakan link di antara file-file yang ada di komputer yang berbeda dan dipisahkan oleh jarak yang jauh.
HTTP
HyperText Transfer Protocol- Protokol yang memungkinkan bermacam-macam komputer yang saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa HTML.
HyperLink
Bagian dari Web page yang menghubungkan Anda ke file lain, menyediakan seamless link (hubungan) ke file-file pada komputer lain. Biasa dikenal sebagai link. Mengklik hyperlink berarti mem-browse WWW dan mengunjungi berbagai likasi.
Hypermedia document
File data berisi banyak informasi yang dikirimkan melalui Internet ke komputer Anda dan dimunculkan secara grafis dalam cara yang user friendly.
HyperText
Salah satu cara untuk me-link banyak file. Teks yang mengandung hyperText biasanya digarisbawahi. Untuk melihat ‘kait’nya Anda cukup mengklik pada teks tersebut.
2) APLIKASI OFFICE DI MKPP
Dalam proses pembelajaran terutama di jurusan MKPP (Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan) sangat diperlukan kejelihan kita dalam penggunaan office karena itu sangat diperlukan lebih kelancaran proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Aplikasi Office dalam Proses Pembelajaran, antara lain:
1) Microsoft Office Word digunakan untuk mengerjakan atau mengetik berbagai tugas-tugas yang ada yang telah diberikan oleh dosen.
2) Microsoft Office PowerPoint digunakan untuk memprsentasikan makalah atau laporan.
3) Microsoft Office Excel digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan penghitungan (statitika).
Minggu, 08 November 2009
total Qualiti Management
total Qualiti management adalah suatu ide yang dilakukan secara terus-menerus untuk memenuhi standart kualitas, guna terpenuhinya kepusan pelanggan.
dalam dunia pendidikan kelengkapan administrasi, pelayanan yg baik, kepemimpinan, serta kelengkapan sarana dan prasarana merupakan hal yan diutamakan
dalam dunia pendidikan kelengkapan administrasi, pelayanan yg baik, kepemimpinan, serta kelengkapan sarana dan prasarana merupakan hal yan diutamakan
Senin, 05 Oktober 2009
यकिमका अंडा??
ujilah keyakinan anda denga jujur.
1. apakah semua orang dipandang bernilai sama?
2. Apakah mungkin memberikan kesempatan yang sama?
3. haruskahkita memiliki dan melatih "elit" untuk memperhatikan orang lain?
4. dapatkah semua orang/ anak-anak belajar?
5. dapatkah semua orang memberikan kontribusi unik yang dibuatnya?
6. Apakah seseorang mendapat manfaat berada bersama orang lain yang berbeda?
inilah ujian tersendiri bagi guru untuk menekankan pembelajaran yang demokratis dan dapat memberikan pembelajaran yang bisa diperoleh peserta didik tanpa adanya diskriminasi ilmu pengetahuan.
1. apakah semua orang dipandang bernilai sama?
2. Apakah mungkin memberikan kesempatan yang sama?
3. haruskahkita memiliki dan melatih "elit" untuk memperhatikan orang lain?
4. dapatkah semua orang/ anak-anak belajar?
5. dapatkah semua orang memberikan kontribusi unik yang dibuatnya?
6. Apakah seseorang mendapat manfaat berada bersama orang lain yang berbeda?
inilah ujian tersendiri bagi guru untuk menekankan pembelajaran yang demokratis dan dapat memberikan pembelajaran yang bisa diperoleh peserta didik tanpa adanya diskriminasi ilmu pengetahuan.
पेम्बुअतन ऊ.
PROSES PEMBUATAN UNDANG-UNDANG
RUU bisa diusulkan oleh kedua belah pihak, baik presiden maupun DPR dengan ketentuan sebagai berikut:
1.Anggota DPR boleh mengajukan RUU/ setiap individu dengan catatan minimal di setului oleh 30 Anggota yang lain dan tidak boleh hanya dari 1 fraksi
2.RUU harus dimintai persetujuan ketua DPR
3.Ketua DPR punya 3 hak terhadap RUU tersebut diantaranya: hak menolak (setelah ditolak oleh DPR mak RUU tersebut tidak bisa diajukan lagi untuk kedua kalinya); memperbaiki/mengamndemen terhadap RUU yang diajukkan; dan bisa menerima secara mutlak (tanpa diamandemen atau ditolak)
4.Kalau RUU di terima oleh DPR, maka RUU tersebut harus dimintai persetujuan presiden.
5.Presiden berhak untuk : menerima secara mutlak, menolak, serta mengamandemen RUU yang diajukkan oleh DPR tersebut.
6.Apabila diterima/disetujui oleh Presiden, maka DPR melaksanakan sidang pleno, dan bersama Presiden menyetujui RUU tersebut.
7.RUU yang berubah menjadi UU ini diserahkan ke Segneg untuk diberi nomor , atau kementeri Kehakiman
8.Baru oleh segneg atau menteri kehakiman di informasikan ke media massa , radio, maupun surat kabar sebagai upaya sosialisasi terhadap UU yang baru.
9.UU tersebut berlaku dimasyarakat mulai tanggal diundangkannya.
RUU bisa diusulkan oleh kedua belah pihak, baik presiden maupun DPR dengan ketentuan sebagai berikut:
1.Anggota DPR boleh mengajukan RUU/ setiap individu dengan catatan minimal di setului oleh 30 Anggota yang lain dan tidak boleh hanya dari 1 fraksi
2.RUU harus dimintai persetujuan ketua DPR
3.Ketua DPR punya 3 hak terhadap RUU tersebut diantaranya: hak menolak (setelah ditolak oleh DPR mak RUU tersebut tidak bisa diajukan lagi untuk kedua kalinya); memperbaiki/mengamndemen terhadap RUU yang diajukkan; dan bisa menerima secara mutlak (tanpa diamandemen atau ditolak)
4.Kalau RUU di terima oleh DPR, maka RUU tersebut harus dimintai persetujuan presiden.
5.Presiden berhak untuk : menerima secara mutlak, menolak, serta mengamandemen RUU yang diajukkan oleh DPR tersebut.
6.Apabila diterima/disetujui oleh Presiden, maka DPR melaksanakan sidang pleno, dan bersama Presiden menyetujui RUU tersebut.
7.RUU yang berubah menjadi UU ini diserahkan ke Segneg untuk diberi nomor , atau kementeri Kehakiman
8.Baru oleh segneg atau menteri kehakiman di informasikan ke media massa , radio, maupun surat kabar sebagai upaya sosialisasi terhadap UU yang baru.
9.UU tersebut berlaku dimasyarakat mulai tanggal diundangkannya.
Jumat, 28 Agustus 2009
pendidikan, moral, dan agama
pendidikan.,
berbicara tentang pendidikan tentu tdk pernah habis dari ingatan kita, baik dari kalangan pelajar itu sendiri, pengusaha, tua maupun muda semua pasti telah tersentuhkan oleh pendidikan baik secara formal maupun nonformal; karena pendidikan adalah kebutuhan sehingga manusia tidak akan mungkin menghindari kebutuhan itu.
secara sederhana pendidikan itu ialah wahana proses perbaikan, didikan moral yang ditempuh manusia, sehingga dengan sarana berupa pendidikan ini manusia dapat mengetahui hal baik dan buruk. lalu yang menjadi pertanyaan kita, benarkah dengan pendidikan manusia akan bermoral dan dapat terhindar dari perbuatan asusila? Apakah dengan beragama manusia juga memahami moral yang baik?; ini semua adalah tantangan kita sebagai generasi rabbani. Berikut saya uraikan jawaban pertanyaan tersebut:
1. benarkah dengan pendidikan manusia akan bermoral dan terhindar dari perbuatan asusila?
jawabanya a. manusia akan terhindar dari perbuatan asusila dan cenderung berperilaku baik, mengetahui hal baik dan buruk apabila ia memahami pendidkan itu dengan nurani, intinya kita harus melakukan hal yang tidak bertentangan dengan nurani. b. tidak mendapatkan apa-apa (tidak bermoral, cenderung asusila) apabila pendidikan itu hanya dijadikan simbolisasi gelar oleh manusia. kita mengetahui banyak hal yang dilakukan oleh pelaksana pendidikan kita mulai dari tindakan guru yang menganiaya murid-muridnya, guru yang melakukan hubungan sex dengan muridnya, sampai dengan penyelenggara pendidika kita
berbicara tentang pendidikan tentu tdk pernah habis dari ingatan kita, baik dari kalangan pelajar itu sendiri, pengusaha, tua maupun muda semua pasti telah tersentuhkan oleh pendidikan baik secara formal maupun nonformal; karena pendidikan adalah kebutuhan sehingga manusia tidak akan mungkin menghindari kebutuhan itu.
secara sederhana pendidikan itu ialah wahana proses perbaikan, didikan moral yang ditempuh manusia, sehingga dengan sarana berupa pendidikan ini manusia dapat mengetahui hal baik dan buruk. lalu yang menjadi pertanyaan kita, benarkah dengan pendidikan manusia akan bermoral dan dapat terhindar dari perbuatan asusila? Apakah dengan beragama manusia juga memahami moral yang baik?; ini semua adalah tantangan kita sebagai generasi rabbani. Berikut saya uraikan jawaban pertanyaan tersebut:
1. benarkah dengan pendidikan manusia akan bermoral dan terhindar dari perbuatan asusila?
jawabanya a. manusia akan terhindar dari perbuatan asusila dan cenderung berperilaku baik, mengetahui hal baik dan buruk apabila ia memahami pendidkan itu dengan nurani, intinya kita harus melakukan hal yang tidak bertentangan dengan nurani. b. tidak mendapatkan apa-apa (tidak bermoral, cenderung asusila) apabila pendidikan itu hanya dijadikan simbolisasi gelar oleh manusia. kita mengetahui banyak hal yang dilakukan oleh pelaksana pendidikan kita mulai dari tindakan guru yang menganiaya murid-muridnya, guru yang melakukan hubungan sex dengan muridnya, sampai dengan penyelenggara pendidika kita
Selasa, 16 Juni 2009
Laporan Akhir PPL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Kalau kita cermati pengertian diatas pertama; menegaskan bahwa dalam pendidikan hendaknya tercipta sebuah wadah dimana peserta didik bisa secara aktif mempertajam dan memunculkan ke permukaan potensi-potensinya sehingga menjadi kemampuan-kemampuan yang dimilikinya secara alamiah, kedua; pendidikan merupakan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa.
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Sekolah merupakan sentral pendidikan formal dalam masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan masyarakat (masyarakat belajar/siswa) ke arah kehidupan yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan.
Guru merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar di Sekolah, siswa sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar sering mengalami masalah. Salah satu tugas guru sebagai pendidik dalam hal ini adalah membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga diperlukan seorang guru yang profesional agar tujuan pendidikan dapat dicapai.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki dua peran yang tidak boleh ditinggalkan yaitu guru sebagai pengajar dan pendidik. Selain menyampaikan materi pelajaran juga sebagai fasilitator yang berarti membimbing, mengarahkan dan membantu mengembangkan pribadi anak didik menuju kearah kedewasaan dan prestasi belajar yang maksimal. Guru harus memahami dan mengetahui lebih dalam tentang keadaan, tingkah laku, latar belakang dan kesulitan atau permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa.
Dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar pasti mengalami permasalahan-permasalahan yang timbul baik yang berasal dari proses kesuliatan belajar mengajar itu sendiri, dari guru maupun berasal dari siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa merupakan masalah yang sangat penting harus diketahui guru yang sangat berpengaruh langsung terhadap keberhasilan siswa dalam studinya. Seorang guru dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya harus memperhatikan aspek-aspek yang ada pada pribadi anak tersebut, antara lain bakatnya, kemampuannya, lingkungannya dan sebagainya, agar siswa yang diberi bantuan dapat menyelesaikan masalah yang dialami.
Untuk mencapai hasil yang maksimal terhadap upaya memberikan perhatian kepada siswa yang bermasalah tersebut, maka perlu adanya studi kasus pada kegiatan ini diangkat siswa yang bermasalah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan secara khusus. Selain itu pihak guru akan memberikan bantuan berupa saran dan nasehat yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Diharapkan dari kegiatan studi ini masalah yang dihadapi oleh siswa dapat terpecahkan atau setidaknya dapat dikurangi.
Pada studi kasus ini konseli mengalami kesulitan dalam belajar terutama pada pelajaran Matematika (pelajaran yang kurang disenangi). Berdasarkan latar belakang diatas maka praktikan tertarik untuk mengambil judul“Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Layanan Bimbingan Siswa”
1.2 Pengertian Layanan Bimbingan Siswa
Layanan studi kasus merupakan upaya-upaya memahami dan mempelajarai keadaan individu sesuai seluk beluk anak serta keadaan yang sebenarnya dengan menggunakan berbagai macam teknik atau pendekatan-pendekatan tertentu terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar dalam bidang studi
Berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian bimbingan antara lain:
1. Djumhur, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (1975:27)
Bimbingan dan penyuluhan adalah suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu dalam membantu perkembangan individu dalam mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan pendapat yang sebesar-besarnya baik dirinya maupun masyarakat.
2. W. S. Winkel, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (1977:12)
Bimbingan berarti pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam meneyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup.
3. Mortesen (1984), Konseling adalah suatu proses antara pribadi dimana satu orang yang satu dibantu oleh orang lainnya untuik meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya.
4. Partowisastro (1982 : 12). Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang agar mengembangka potensi-potensi yang dimilikinya, mengenalili pribadinya, mengatasi persoalan sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara tanggungjawab tanpa bergantung pada orang lain.
5. H. B dan A. C. English. Konseling adalah terjadinya proses bantuan agar klien dapat memecahkan masalah penyesuaian dirinya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa layanan merupakan salah satu kegiatan untuk memberikan bantuan kepada seseorang yang bermasalah baik yang sifatnya berat maupun ringan, dalam hal ini layanan yang dilakukan guru terhadap siswa sebagai upaya peningkatan motifasi belajar yang pada akhirnya bisa memberikan konstribusi positif terhadap prestasi belajar siswa.
1.3 Tujuan Layanan Bimbingan Siswa
Tujuan yang ingin dicapai dari layanan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
1) Mengenal latar belakang pribadi siswa yang yang mempunyai permasalahan dalam bidang studi.
2) Membantu siswa dalam mengembangkan pengertian pemahaman diri.
3) Memahami dan menetapkan jenis, sifat, faktor-faktor dan alternatif serta pencegahan timbulnya masalah yang serupa.
b. Tujuan Khusus
1) Membantu mengatasi kesulitan dalam memahami diri siswa.
2) Membantu mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungan.
3) Membantu mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar.
4) Membantu mengatasi kesulitan dalam belajar dan hubungan sosial
1.4 Pentingnya Layanan Bimbingan Siswa
Dengan adanya layanan studi kasus, diharapkan anak didik mampu memecahkan kesulitan yang dihadapi sehingga proses kegiatan belajar siswa dapat berjalan lebih efektif dan optimal, dapat meningkatkan prestasi belajarnya dan lebih semangat dalam belajar.
Layanan studi kasus ini dharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
a. Siswa
Bagi siswa yang bermasalah (konseli) hasil layanan bimbingan studi kasus ini dapat digunakan untuk:
1) Mengenal dan memahami dirinya dengan baik
2) Memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar
b. Calon Guru
Bagi mahasiswa PPL sebagai calon guru, hasil dari layanan studi kasus ini dapat digunakan sebagai masukan agar nantinya dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar dapat menunjang kehandalan dan keprofesionalan sebagai seorang guru.
c. Wali Kelas dan Guru BP
Bagi wali kelas dan guru BP dengan hasil layanan bimbingan studi kasus ini dapat memberikan informasi untuk dijadikan bahan masukan untuk membantu anak didik dalam memecahkan kesulitannya, sehingga dapat dijadikan upaya dalam menentukan alternatif terbaik guna meningkatkan prestasi anak didiknya.
d. Kepala Sekolah (sebagai koordinator)
1) Merupakan salah satu informasi tentang siswanya sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan kebijaksanaan tentang masalah siswa.
2) Bahan masukan dalam menentukan kebijaksanaan yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan.
e. Orang Tua Siswa
1) Meringankan beban orang tua dalam memahami anaknya, sehingga mempermudah dalam mengendalikan dan membina anaknya maka tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
2) Meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah sehingga kesalahan/kekeliruan dalam mendidik anak dapat dihindari.
Sedangkan peran bimbingan dan penyuluhan dalam hal ini dapat di bagi menjadi empat peranan (Gunarsa: 2002:20) yaitu:
1. Berperan sebagai pencegah, yaitu membantu anak menemukan cara-cara untuk mengatasi persoalan yang mungkin akan mengarah pada penyimpangan perkembangan mental, tekanan jiwa maupun timbulnya kelainan pada diri anak
2. Berperan Memelihara anak sebagai pribadi yang sudah mencapai perkembangan baik keseimbangan emosi maupun keserasian kepribadian anak
3. Berperan dalam membantu pembentukan penyesuain diri, yakni dengan jalan membantu anak menghadapi, memahami dan memecahkan masalah untuk mencapai hasil yang optimal baik dalam jenjang karir maupun dalam hubungan sosial
4. Berperan memperbaiki atau menyembuhkan bila terjadi penyimpangan atau kesulitan yang memerlukan bantuan, maka konselor dapat membantu mencari atau memecahkan permaalahannya.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Agar dapat memecahkan masalah dengan baik, maka diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat dan relevan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam layanan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
a. Angket
Merupakan teknik pengumpulan data yang berupa suatu daftar berisi pernyataan-pernyataan yang harus dijawab dan dikerjakan oleh siswa. Dalam hal ini adalah konseli yang telah dipilih oleh penulis. Konseli diharapkan menjawab pertanyaan yang menyangkut tentang identitas siswa, identitas keluarga dan jumlah saudara.
b. Observasi
Metode ini dilakukan dengan cara mengamati keadaan, sikap dan tingkah laku yang dilakukan siswa dikelas maupun diluar sekolah.
c. Wawancara
Merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan wawancara secara langsung maupun tidak langsung dengan konseli dan permasalah-permasalahan yang dihadapinya.
d. Problem Check List
Metode ini merupakan rangkaian dari angket yang telah diberikan sebelumnya. Metode ini lebih merinci masalah kesulitan yang dihadapi siswa yang telah diungkapkan dalam satu angket.
e. Studi Dokumenter
Studi dokumenter adalah kegiatan mempelajari data siswa dengan melihat dukomen yang ada disekolah, misalnya dengan melihat buku induk sekolah, raport, surat keterangan dan sebagainya (Hayinah, 1998). Berdasarkan studi dokumenter dan raport klien, nilai PKn pada raport konseli adalah 49(dibawah SKM, nilai SKM = 75).
1.6 Alasan Pemilihan Klien/Konseli
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan praktikan terhadap konseli, didapatkan, konseli menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Konseli kurang memperhatikan pada saat guru menerangkan terutama pada mata pelajaran PKn.
b. Konseli terkadang mengobrol didalam kelas
c. Konseli sering menyandarkan kepala di atas meja sambil memukul meja didalam kelas
d. Apabila diberi tugas tidak pernah dikerjakan
e. Konseli sering kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran di kelas.
Dari gejala-gejala yang ditunjukkan oleh konseli, maka penulis menetapkan bahwa yang patut dijadikan konseli adalah siswa kelas VII. Padahal konseli termasuk anak yang responsif. Hal ini didukung dengan hasil wawancara guru di kelas, maupun dengan teman sekelasnya. Dalam proses belajar mengajar konseli tergolong siswa yang antusias.
Oleh penulis masalah konseli dikaitkan dengan kondisi kelas yang kurang kondusif. Dalam hal pergaulan konseli termasuk anak yang supel, hanya saja konseli sering meremehkan pelajaran khususnya mata pelajaran PKn, sehingga bila ada ulangan nilai konseli sering di bawah SKM(nilai SKM = 72) yaitu 35. Oleh karena itu patutlah siswa tersebut dijadikan konseli dengan harapan praktikan dapat memberikan bantuan kepada konseli dalam meningkatkan prestasi belajarnya.
1.7 Konfidensialitas
Mengingat data yang ditulis disini bersifat rahasia dan sesuai dengan kode etik konselor sekolah, maka nama dan identitas lain yang berhubungan dengan klien dibuat fiktif dengan tujuan agar tidak merasa malu atau dirugikan akibat diketahui oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi Kasus
Identifikasi kasus adalah suatu usaha untuk mencari, menetapkan dan mendapatkan siswa mana yang tergolong mengalami kesulitan, dalam hal ini klien adalah siswa kelas VIII-B. Kasus ini ditemukan berdasarkan hasil observasi di kelas. Berdasarkan data yang diperoleh konseli mengalami kesulitan belajar karena konseli kurang berkonsentrasi pada waktu belajar, kesulitan menemukan cara belajar yang tepat, dan sulit mengatur waktu.
a. Data Pribadi Siswa
Nama : Windy Kiswha Chalendra
Nama panggilan : Windy
Tempat tanggal lahir : Malang, 13 Maret 1996
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Agama : Islam
Anak ke : 1 (satu)
b. Orang Tua
Nama Ayah : Cahyo P.
Tempat tanggal lahir : Tulungagung ;...
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Karyawan Rumah Sakit
Nama Ibu : Sulin
Tempat tanggal lahir : Malang ;...
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Pedagang
c. Cita-cita dan kegiatan sehari-hari konseli
Cita-cita : Ingin Menjadi Polri
Lama belajar : 1½ Jam yaitu dari pukul 16.00 – 17.45
Hobi : Olah raga (Basket Ball)
d. Kebiasaan Belajar
Waktu Belajar : Pukul 16.00 - 17.45 WIB
Yang membantu belajar : Bapak dan Ibu
Tempat belajar : punya kamar sendiri dan lampu cukup terang
Peralatan belajar : Cukup lengkap
Minat belajar : Cukup
Sering keluar kelas : Sering
Sering bolos : Jarang
e. Hubungan konseli dengan teman
Jumlah Teman : cukup
Sering diabaikan teman : tidak
Sering bekerjasama : iya
f. Kesehatan konseli
Mata : Tidak Normal/sering terganggu
Telinga : Normal/baik
Pembicaraan : Lancar
Warna Kulit : Sawo matang
Hidung : Normal/baik
g. Masalah yang dialami dirumah
Konseli mengalami kesulitan dalam belajar karena konseli sering malas dan waktu banyak di pergunakan untuk menonton televisi dan sering meremehkan mata pelajaran khususnya PKn. Terkadang konseli merasa kesulitan menentukan cara belajar yang tepat dan sulit mengatur waktu.
h. Masalah dalam belajar
Konseli sering kali malas untuk mempelajari kembali materi yang diajarkan oleh guru karena konseli lebih suka membaca atau mempelajari buku cerita, konsentrasi sering hilang dengan tiba-tiba dan pada waktu ulangan konseli sering mendapatkan nilai yang kurang memuaskan karena konseli tergesa-gesa dan kurang teliti dalam mengerjakan.
2.2 Metode Penyelidikan Kasus
Dalam usaha membantu memecahkan masalah yang dihadapi konseli, digunakan beberapa langkah kegiatan bantuan kepada konseli yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar konseli yang meliputi beberapa tahapan, yaitu:
1. Tahap Analisis
Analisi data merupakan metode pengumpulan data tentang pribadi dan lingkungan konseli. Ada beberapa tahapan dalam metode ini, yaitu
a. Observasi
Berdasarkan hasil observasi terhadap konseli di lingkungan sekolah adalah:
- Konseli sering tidak berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar.
- Konseli sering kali meremehkan mata pelajaran khususnya mata pelajaran PKn.
- Pada subbab mata pelajaran tertentu konseli sering kali tidak mengerti, karena konseli tidak memperhatikan saat guru menerangkan di kelas.
- Konseli sering merasa bosan dalam menerima pelajaran khususnya PKn, karena konseli menganggap remeh mata pelajaran tersebut.
b. Problem Check List
Metode ini merupakan rangkaian dari angket yang telah diberikan sebelumnya. Metode ini lebih merinci masalah kesulitan yang dihadapi siswa yang telah diungkapkan dalam satu angket. Tujuannya agar konseling memiliki pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dari hasil problem check list diperoleh data sebagai berikut:
1. Kesehatan
- Kadang-kadang merasa ngantuk
- Mata sering terganggu
- Pemandangan kurang jelas
2. Keadaan kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial)
- Merasa mudah tersinggung
3. Rumah dan keluarga
- Konseli merupakan anak pertama dan tidak memiliki saudara
- Konseli tinggal bersama orang tua
- Ayah keras sifatnya
- Ada anggota keluarga yang saya rindukan
4. Agama dan moral
- Sulit melaksanakan ibadah secara teratur
- Sering mengingkari janji
- Sering merasa berdosa
5. Rekreasi, olahraga, dan Hobby
- Suka nonton film (sukar membatasi nonton Film)
- Suka bermain Basket
- Lebih suka membaca buku hiburan
- Pelajaran terganggu karena hobby
6. Kebiasaan Belajar
- Saya mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dirumah
- Saya belajar kalau ada ulangan
- Saya mempunyai jadwal atau waktu belajar
- Ada kamar belajar sendiri di rumah
- Suara bising dijalan sering menggangu belajar saya
- Saya tidak biasa tidur siang
- Saya tidak merencanakan bahan apa yang saya akan pelajari
- Ada beberapa pelajaran yang sulit saya ikuti
- Saya bisa mengikuti sistem pendidikan disekolah ini
- Alat di sekolah sangat membantu saya
- Buku pelajaran saya cukup lengkap
- Saya tidak begitu senang baca buku0buku yang ada di perpustakaan
- Kadang-kadang saya bertanya pada guru tentang pelajaran
- Kadang-kadang saya bertanya atau berdiskusi dengan teman tentang pelajaran
7. Penggunaan Waktu
- Konseli tidak dapat memanfaatkan waktu luang
- Konseli tidak dapat membagi waktu belajar
8. Ulangan / Tes
- Sering kurang siap menghadapi ulangan/tes
- Sering kurang yakin terhadap pikiran sendiri
- Saya suka belajar sambil tidur
- Orang tua memberi kesempatan untuk belajar
- Sering menghentikan belajar karena tertarik pada TV
- Kurang teliti dalam mengerjakan tes
9. Ekonomi
Klien merasa ekonominya tidak ada masalah. Penghasilan orang tua mencukupi untuk keperluan sekolah
10. masalah muda – mudi
- Merasa mulai mencintai seseorang
- Klien dilarang pacaran oleh orang tuanya
c. Wawancara
Berdasaran hasil wawancara dengan konseling adalah sebagai berikut:
- Konseling belum bisa memahami arti belajar dengan baik.
- Sulit berkonsentrasi dalam pelajaran di kelas.
- Kurangnya perhatian dari orang tua terhadap cara belajar konseling di rumah.
- Konseling sering belajar sendiri di rumah.
- Konseling tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
- Konseling sering merasa malas untuk belajar mata pelajaran yang kurang diminati.
- Klien sering meninggalkan pelajaran hanya untuk menonton TV
d Dokumentasi
Data dokumentasi diperoleh dari prestasi belajar konseli pada saat mengikuti ulangan harian dan mengerjakan tugas-tugas pelajaran. Dilihat dari segi prestasinya, untuk nilai ulangan harian pertama dan kedua nilai PKn’nya adalah 35 pada ulangan pertama, 65 pada ulangan kedua.
2. Diagnosis
Diagnosis merupakan tahap penginterprestasian data dalam bentuk pengungkapan problem yang dialami siswa bermasalah. Adapun tujuan diadakannya diagnosis ini adalah untuk menemukan dan menentukan penyebab masalah yang dihadapi konseli sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang hakekat masalah yang dihadapi oleh konseli.
Pada tahap ini ada dua langkah yang dilakukan praktikan, yaitu:
1) Identifikasi masalah
Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan jenis masalah siswa dengan cara menjabarkan masalah yang dihadapi siswa berdasarkan data yang ada secara terperinci menurut klasifikasi masalah.
Setelah praktikan melakukan observasi ternyata konseli merasa dirinya pintar dan sering meremehkan mata pelajaran PKn. Konseli juga sering ngobrol dengan temannya dan kurang berkonsentrasi sehingga konseli sering tidak memperhatikan guru ketika menjelaskan mata pelajaran yang diajarkan.
Berdasarkan data dari konseli dengan memberikan angket berisikan tentang problem check terlihat bahwa klien dalam proses belajar mengajar adalah siswa yang aktif pada pelajaran tertentu. Keadaan keluarga juga relatif bagus dan tidak ada masalah.
2) Etiologi
Etiologi merupakan usaha untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah. Dari hasil analisis permasalahan (hasil interprestasi data dari peoblem check list) dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan dalam diri konseli adalah sebagai berikut:
- Konseli sulit menentukan cara belajar
- Kurang berkonsentrasi dalam pelajaran di kelas
- Sifat orang tua terhadap konseli keras
- Konseli sering ngobrol bila pelajaran berlangsung
- Konseli sering meremehkan mata pelajaran yang guru ajarkan
- Konseli tidak bisa membagi waktu belajarnya
3. Prognosis
Prognosis adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari alternatif yang terbaik dalam mengatasi masalah yang dihadapi Konseli. Prognosis ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan yang terjadi apabila konseli tidak segera mendapatkan bantuan atau bimbingan atau sebaliknya segera memperoleh bantuan atau bimbingan.
Berdasarkan identifikasi masalah yang dihadapi konseli, maka prognosisnya adalah sebagai berikut:
a. Jika tidak segera dibantu
- Konseli akan sulit memperoleh nilai rata-rata yang sama atau bahkan meningkat pada waktu yang akan datang.
b. Jika segera dibantu
- Konseli akan senang belajar dan akan lebih berkonsentrasi pada pelajaran PKn.
- Konseli akan berpengaruh pada kelasnya. Kemungkinan apabila ada penanganan yang serius maka kelas yang dahulunya kurang kondusif dapat berubah menjadi kelas yang kondusif.
2.3 Usaha Usaha Pemberian Bantuan (Treatment)
Usaha pemberian bantuan atau treatment adalah langkah inti dari studi kasus. Langkah ini bertujuan agar konseling dapat mengatasi kesulitan belajar yang sedang dihadapi sekaligus agar mendapat prestasi yang optimal.
1. Bantuan Yang Diberikan
Sesuai dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah rencana pemberian bantuan yang bisa diberikan adalah sebagai berikut
a. Melalui Wawancara Konseling
Dalam teknik ini pemberian bantuan dilakukan dalam bentuk hubungan yang bersifat face to face, yang dilakukan antara praktikan dengan Konseli. Layanan konseling ini bertujuan membantu konseli dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan penyuluhan ini diharapkan terjadi perubahan yang konstruktif pada konseli.
Layanan konseling ini dilakukan agar konseli mengenal dirinya dan lingkungannya sehingga konseli mengambil keputusan yang memuaskan bagi dirinya.
b. Bantuan yang diberikan berkaitan dengan permasalahan yang klien hadapi, pemberian bantuan penyuluhan tersebut berupa
1. Berhubungan dengan lingkungan, yaitu klien harus bisa mengendalikan diri saat di kelas sehingga proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan lancar tanpa ada keributan yang disebabkan klien mengajak bicara temannya
2. Memberikan saran-saran dan pengarahan agar klien berusaha belajar dengan lebih giat lagi dan dapat memanfaatkan waktu dengan baik , bisa mengurangi waktu untuk menonton TV dan bermain
3. Menyarankan klien agar membuat jadwal kegiatan kesehariannya agar waktunya tidak terbuang dengan percuma
4. Memberikan saran agar klien mengadakan pelajaran bersamaatau kelompok dengan teman-temannya yang lebih menguasai materi
5. Mengadakan pendekatan bimbingan dengan baik kepada klien agar dapat mengurangi kebosanan klien terhadap pelajaran khususnya PKn
c. Bimbingan cara membagi waktu kegiatan sehari-hari
Memberikan bimbingan bagaimana membagi waktu yang benar, sehingga siswa dapat belajar dengan waktu yang cukup.
d. Remidial Teaching
Dilakukan karena nilai konseli kurang dari SKM (nilai SKM = 72) yaitu 35. biasanya dilakukan pada waktu jam remidi . Hal ini supaya konseli mendapatkan nilai yang diharapkan. Materi yang disampaikan adalah materi-materi yang dapat dipahami oleh siswa.
e. Pelimpahan
Pelimpahan dilakukan apabila praktikan sudah tidak dapat membantu menyelesaikan permasalahan konseli, diharapkan konseli tetap dapat mengembangkan potensi belajarnya.
d. Home Visit
Home visit merupakan kunjungan praktikan ke rumah konseli. Hal ini merupakan usaha praktikan untuk mengetahui kondisi keluarga konseli.
2. Bantuan yang belum terlaksana
Berdasarkan yang telah dikemukakan diatas, maka pemberian bantuan yang belum terlaksana adalah sebagai berikut:
a) Pelimpahan
Pelimpahan tidak dapat dilaksanakan oleh praktikan dikarenakan praktikan sudah dapat membimbing konseli sehingga bimbingan ini dirasa tidak diperlukan.
b) Home Visit
Mengingat keterbatasan waktu yang diberikan dalam menyelesaiakn laporan layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi maka home visit belum dapat dilakukan.
3. Follow UP
Follow Up adalah usaha yang dilakukan oleh praktikan untuk mengikuti perkembangan klien setelah melakukan keputusan sendiri untuk bertindak. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui keberhasilan diagnostik kesulitan belajar dan usaha bantuan yang diberikan.
Langkah yang diambil adalah:
a) Penilaian
Konseli sudah mulai mengalami peningkatan dalam mengikuti pelajaran di kelas terutama dalam pelajaran PKn. Konseli sudah mau berkonsentrasi dan memperhatikan saat guru menerangkan di depan kelas.
b) Wawancara
Dari hasil wawancara konseli sudah dapat membagi waktu belajar dengan baik.
c) Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung konseli sudah bersemangat dalam mengikuti mata pelajaran PKn di kelas.
d) Membagi tugas dan peranan dengan orang-orang tertentu (guru dan wali kelas) dalam memberikan bantuan kepada konseli agar konseli dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
e) Senantiasa mengecek lagi (re-check) kemajuan konseli berkaitan dengan pemahaman konseli terhadap bantuan yang diberikan, yang berupa pemahaman pengajaran maupun mengecek ketepatgunaan program pengajaran yang dilaksanakan.
Berdasarkan langkah-langkah yang dilakukan praktikan terhadap konseli, bahwa nilai ulangan harian konseli semakin meningkat (terlihat pada lampiran). Karena keterbatasan waktu selama praktek di lapangan, maka praktikan tidak dapat melakukan layanan bimbingan studi kasus secara optimal dan tidak dapat melakukan rencana bantuan yang diberikan. Karena itulah untuk mengoptimalkan dan untuk mengetahui perkembangan konseli selanjutnya, usaha yang dapat dilakukan adalah melimpahkan kepada Guru mata pelajaran, konselor dan Wali kelas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan data-data dan langkah-langlah yang dilakukan praktikan menunjukkan bahwa bimbingan belajar yang efektif sangat penting adanya bagi konseli, agar konseli dapat meningkatkan prestasi belajarnya secara optimal.
Dari bimbingan belajar yang praktikan lakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a. Dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal banyak sekali faktor-faktor yang menghambat baik yang bersifat intern maupun ekstern.
b. Untuk menemukan alternatif pemecahan suatu masalah harus dilaksanakan secar terencana.
c. Seorang guru hendaknya tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga harus mengetahui perkembangan siswa, masalah-masalah yang dihadapi siswa, dan dapat membantu mengatasi masalah tersebut.
d. Proses belajar mengajar yang dilaksanakan sekolah memerlukan kerjasama yang baik antara sekolah, guru, orang tua dan masyarakat.
e. Layanan bimbingan siswa adalah upaya memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah
f. Layanan bimbingan ini akan berhasil dengan baik apabila ada peran aktif dari klien untuk berusaha bersungguh-sungguh menyelesaikan masalah dalam kesulitan belajarnya serta didukung oleh partisipasi orang tua, guru, wali kelas dan lingkungan siswa atau lingkungan sekolah.
3.2 Saran-saran
Dari hasil analisis layanan bimbingan siswa ini, praktikan menyarankan:
a. Kepada Konseli
§ Konseli diharapkan mampu membagi waktu secara tepat untuk kepentingan balajar dan bermain, sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik.
§ Saat pembelajaran berlangsung dikelas sebaiknya jangan terpengaruh oleh teman yang mengajak bercanda sehingga konsentrasi dalam memahami materi tetap terjaga
§ Ingat akan cita-cita dan harapan orang tua, agar semangat belajar klien semakin meningkat
b. Kepada Guru/Wali Kelas
Guru harus mampu memberikan perhatian yang merata kepada siswa di kelas, terutama siswa yang menghadapi permasalahan. Guru hendaknya menjadi mitra BP untuk memberikan bantuan pengarahan yang berkaitan dengan cara belajar yang baik dan efisien dan menekankan pada pentingnya pendidikan masa depan anak didik.
c. Kepada BK
Petugas BK diharapkan selalu menjalin komunikasi dengan siswa sehingga dapat mengetahui perkembangan siswa yang telah mendapat bantuan. Secara umum BK diharapkan menjadi penghubung antara siswa, guru, dan orang tua sehingga permasalahan siswa dapat dengan cepat diketahui dan dengan segera diselesaikan.
d. Kepada Orang Tua
Orang tua hendaknya terus memberi dorongan kepada anaknya untuk terus berprestasi dan selalu mengontrol anaknya. Selan itu orang tua hendaknya menjalin kerjasama dengan sekolah sehingga mengetahui perkembangan anak di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Djumhur. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung : CV. Ilmu.
Hayinah. 1992/1993. Masalah Belajar dan Bimbingan. Malang: Depdikbud Malang, Proyek OFF.
Tim PPL-FKIP. 2006. Pedoman Program Pengalaman Lapangan. Malang : Unit PPL.
Winkel, Ws. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta : Gramedia.
Widada dan Hidayah, Nur. 1997/1998. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Malang : IKIP Malang.
Abdullatif. 2007. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung : Refika Aditama.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Kalau kita cermati pengertian diatas pertama; menegaskan bahwa dalam pendidikan hendaknya tercipta sebuah wadah dimana peserta didik bisa secara aktif mempertajam dan memunculkan ke permukaan potensi-potensinya sehingga menjadi kemampuan-kemampuan yang dimilikinya secara alamiah, kedua; pendidikan merupakan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa.
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Sekolah merupakan sentral pendidikan formal dalam masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan masyarakat (masyarakat belajar/siswa) ke arah kehidupan yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan.
Guru merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar di Sekolah, siswa sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar sering mengalami masalah. Salah satu tugas guru sebagai pendidik dalam hal ini adalah membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga diperlukan seorang guru yang profesional agar tujuan pendidikan dapat dicapai.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki dua peran yang tidak boleh ditinggalkan yaitu guru sebagai pengajar dan pendidik. Selain menyampaikan materi pelajaran juga sebagai fasilitator yang berarti membimbing, mengarahkan dan membantu mengembangkan pribadi anak didik menuju kearah kedewasaan dan prestasi belajar yang maksimal. Guru harus memahami dan mengetahui lebih dalam tentang keadaan, tingkah laku, latar belakang dan kesulitan atau permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa.
Dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar pasti mengalami permasalahan-permasalahan yang timbul baik yang berasal dari proses kesuliatan belajar mengajar itu sendiri, dari guru maupun berasal dari siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa merupakan masalah yang sangat penting harus diketahui guru yang sangat berpengaruh langsung terhadap keberhasilan siswa dalam studinya. Seorang guru dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya harus memperhatikan aspek-aspek yang ada pada pribadi anak tersebut, antara lain bakatnya, kemampuannya, lingkungannya dan sebagainya, agar siswa yang diberi bantuan dapat menyelesaikan masalah yang dialami.
Untuk mencapai hasil yang maksimal terhadap upaya memberikan perhatian kepada siswa yang bermasalah tersebut, maka perlu adanya studi kasus pada kegiatan ini diangkat siswa yang bermasalah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan secara khusus. Selain itu pihak guru akan memberikan bantuan berupa saran dan nasehat yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Diharapkan dari kegiatan studi ini masalah yang dihadapi oleh siswa dapat terpecahkan atau setidaknya dapat dikurangi.
Pada studi kasus ini konseli mengalami kesulitan dalam belajar terutama pada pelajaran Matematika (pelajaran yang kurang disenangi). Berdasarkan latar belakang diatas maka praktikan tertarik untuk mengambil judul“Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Layanan Bimbingan Siswa”
1.2 Pengertian Layanan Bimbingan Siswa
Layanan studi kasus merupakan upaya-upaya memahami dan mempelajarai keadaan individu sesuai seluk beluk anak serta keadaan yang sebenarnya dengan menggunakan berbagai macam teknik atau pendekatan-pendekatan tertentu terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar dalam bidang studi
Berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian bimbingan antara lain:
1. Djumhur, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (1975:27)
Bimbingan dan penyuluhan adalah suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu dalam membantu perkembangan individu dalam mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan pendapat yang sebesar-besarnya baik dirinya maupun masyarakat.
2. W. S. Winkel, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (1977:12)
Bimbingan berarti pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam meneyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup.
3. Mortesen (1984), Konseling adalah suatu proses antara pribadi dimana satu orang yang satu dibantu oleh orang lainnya untuik meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya.
4. Partowisastro (1982 : 12). Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang agar mengembangka potensi-potensi yang dimilikinya, mengenalili pribadinya, mengatasi persoalan sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara tanggungjawab tanpa bergantung pada orang lain.
5. H. B dan A. C. English. Konseling adalah terjadinya proses bantuan agar klien dapat memecahkan masalah penyesuaian dirinya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa layanan merupakan salah satu kegiatan untuk memberikan bantuan kepada seseorang yang bermasalah baik yang sifatnya berat maupun ringan, dalam hal ini layanan yang dilakukan guru terhadap siswa sebagai upaya peningkatan motifasi belajar yang pada akhirnya bisa memberikan konstribusi positif terhadap prestasi belajar siswa.
1.3 Tujuan Layanan Bimbingan Siswa
Tujuan yang ingin dicapai dari layanan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
1) Mengenal latar belakang pribadi siswa yang yang mempunyai permasalahan dalam bidang studi.
2) Membantu siswa dalam mengembangkan pengertian pemahaman diri.
3) Memahami dan menetapkan jenis, sifat, faktor-faktor dan alternatif serta pencegahan timbulnya masalah yang serupa.
b. Tujuan Khusus
1) Membantu mengatasi kesulitan dalam memahami diri siswa.
2) Membantu mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungan.
3) Membantu mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar.
4) Membantu mengatasi kesulitan dalam belajar dan hubungan sosial
1.4 Pentingnya Layanan Bimbingan Siswa
Dengan adanya layanan studi kasus, diharapkan anak didik mampu memecahkan kesulitan yang dihadapi sehingga proses kegiatan belajar siswa dapat berjalan lebih efektif dan optimal, dapat meningkatkan prestasi belajarnya dan lebih semangat dalam belajar.
Layanan studi kasus ini dharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
a. Siswa
Bagi siswa yang bermasalah (konseli) hasil layanan bimbingan studi kasus ini dapat digunakan untuk:
1) Mengenal dan memahami dirinya dengan baik
2) Memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar
b. Calon Guru
Bagi mahasiswa PPL sebagai calon guru, hasil dari layanan studi kasus ini dapat digunakan sebagai masukan agar nantinya dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar dapat menunjang kehandalan dan keprofesionalan sebagai seorang guru.
c. Wali Kelas dan Guru BP
Bagi wali kelas dan guru BP dengan hasil layanan bimbingan studi kasus ini dapat memberikan informasi untuk dijadikan bahan masukan untuk membantu anak didik dalam memecahkan kesulitannya, sehingga dapat dijadikan upaya dalam menentukan alternatif terbaik guna meningkatkan prestasi anak didiknya.
d. Kepala Sekolah (sebagai koordinator)
1) Merupakan salah satu informasi tentang siswanya sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan kebijaksanaan tentang masalah siswa.
2) Bahan masukan dalam menentukan kebijaksanaan yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan.
e. Orang Tua Siswa
1) Meringankan beban orang tua dalam memahami anaknya, sehingga mempermudah dalam mengendalikan dan membina anaknya maka tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
2) Meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah sehingga kesalahan/kekeliruan dalam mendidik anak dapat dihindari.
Sedangkan peran bimbingan dan penyuluhan dalam hal ini dapat di bagi menjadi empat peranan (Gunarsa: 2002:20) yaitu:
1. Berperan sebagai pencegah, yaitu membantu anak menemukan cara-cara untuk mengatasi persoalan yang mungkin akan mengarah pada penyimpangan perkembangan mental, tekanan jiwa maupun timbulnya kelainan pada diri anak
2. Berperan Memelihara anak sebagai pribadi yang sudah mencapai perkembangan baik keseimbangan emosi maupun keserasian kepribadian anak
3. Berperan dalam membantu pembentukan penyesuain diri, yakni dengan jalan membantu anak menghadapi, memahami dan memecahkan masalah untuk mencapai hasil yang optimal baik dalam jenjang karir maupun dalam hubungan sosial
4. Berperan memperbaiki atau menyembuhkan bila terjadi penyimpangan atau kesulitan yang memerlukan bantuan, maka konselor dapat membantu mencari atau memecahkan permaalahannya.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Agar dapat memecahkan masalah dengan baik, maka diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat dan relevan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam layanan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
a. Angket
Merupakan teknik pengumpulan data yang berupa suatu daftar berisi pernyataan-pernyataan yang harus dijawab dan dikerjakan oleh siswa. Dalam hal ini adalah konseli yang telah dipilih oleh penulis. Konseli diharapkan menjawab pertanyaan yang menyangkut tentang identitas siswa, identitas keluarga dan jumlah saudara.
b. Observasi
Metode ini dilakukan dengan cara mengamati keadaan, sikap dan tingkah laku yang dilakukan siswa dikelas maupun diluar sekolah.
c. Wawancara
Merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan wawancara secara langsung maupun tidak langsung dengan konseli dan permasalah-permasalahan yang dihadapinya.
d. Problem Check List
Metode ini merupakan rangkaian dari angket yang telah diberikan sebelumnya. Metode ini lebih merinci masalah kesulitan yang dihadapi siswa yang telah diungkapkan dalam satu angket.
e. Studi Dokumenter
Studi dokumenter adalah kegiatan mempelajari data siswa dengan melihat dukomen yang ada disekolah, misalnya dengan melihat buku induk sekolah, raport, surat keterangan dan sebagainya (Hayinah, 1998). Berdasarkan studi dokumenter dan raport klien, nilai PKn pada raport konseli adalah 49(dibawah SKM, nilai SKM = 75).
1.6 Alasan Pemilihan Klien/Konseli
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan praktikan terhadap konseli, didapatkan, konseli menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Konseli kurang memperhatikan pada saat guru menerangkan terutama pada mata pelajaran PKn.
b. Konseli terkadang mengobrol didalam kelas
c. Konseli sering menyandarkan kepala di atas meja sambil memukul meja didalam kelas
d. Apabila diberi tugas tidak pernah dikerjakan
e. Konseli sering kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran di kelas.
Dari gejala-gejala yang ditunjukkan oleh konseli, maka penulis menetapkan bahwa yang patut dijadikan konseli adalah siswa kelas VII. Padahal konseli termasuk anak yang responsif. Hal ini didukung dengan hasil wawancara guru di kelas, maupun dengan teman sekelasnya. Dalam proses belajar mengajar konseli tergolong siswa yang antusias.
Oleh penulis masalah konseli dikaitkan dengan kondisi kelas yang kurang kondusif. Dalam hal pergaulan konseli termasuk anak yang supel, hanya saja konseli sering meremehkan pelajaran khususnya mata pelajaran PKn, sehingga bila ada ulangan nilai konseli sering di bawah SKM(nilai SKM = 72) yaitu 35. Oleh karena itu patutlah siswa tersebut dijadikan konseli dengan harapan praktikan dapat memberikan bantuan kepada konseli dalam meningkatkan prestasi belajarnya.
1.7 Konfidensialitas
Mengingat data yang ditulis disini bersifat rahasia dan sesuai dengan kode etik konselor sekolah, maka nama dan identitas lain yang berhubungan dengan klien dibuat fiktif dengan tujuan agar tidak merasa malu atau dirugikan akibat diketahui oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi Kasus
Identifikasi kasus adalah suatu usaha untuk mencari, menetapkan dan mendapatkan siswa mana yang tergolong mengalami kesulitan, dalam hal ini klien adalah siswa kelas VIII-B. Kasus ini ditemukan berdasarkan hasil observasi di kelas. Berdasarkan data yang diperoleh konseli mengalami kesulitan belajar karena konseli kurang berkonsentrasi pada waktu belajar, kesulitan menemukan cara belajar yang tepat, dan sulit mengatur waktu.
a. Data Pribadi Siswa
Nama : Windy Kiswha Chalendra
Nama panggilan : Windy
Tempat tanggal lahir : Malang, 13 Maret 1996
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Agama : Islam
Anak ke : 1 (satu)
b. Orang Tua
Nama Ayah : Cahyo P.
Tempat tanggal lahir : Tulungagung ;...
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Karyawan Rumah Sakit
Nama Ibu : Sulin
Tempat tanggal lahir : Malang ;...
Alamat : Jl. Aji Mustofa No.79 Rt 02/04 Torongrejo Batu
Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Pedagang
c. Cita-cita dan kegiatan sehari-hari konseli
Cita-cita : Ingin Menjadi Polri
Lama belajar : 1½ Jam yaitu dari pukul 16.00 – 17.45
Hobi : Olah raga (Basket Ball)
d. Kebiasaan Belajar
Waktu Belajar : Pukul 16.00 - 17.45 WIB
Yang membantu belajar : Bapak dan Ibu
Tempat belajar : punya kamar sendiri dan lampu cukup terang
Peralatan belajar : Cukup lengkap
Minat belajar : Cukup
Sering keluar kelas : Sering
Sering bolos : Jarang
e. Hubungan konseli dengan teman
Jumlah Teman : cukup
Sering diabaikan teman : tidak
Sering bekerjasama : iya
f. Kesehatan konseli
Mata : Tidak Normal/sering terganggu
Telinga : Normal/baik
Pembicaraan : Lancar
Warna Kulit : Sawo matang
Hidung : Normal/baik
g. Masalah yang dialami dirumah
Konseli mengalami kesulitan dalam belajar karena konseli sering malas dan waktu banyak di pergunakan untuk menonton televisi dan sering meremehkan mata pelajaran khususnya PKn. Terkadang konseli merasa kesulitan menentukan cara belajar yang tepat dan sulit mengatur waktu.
h. Masalah dalam belajar
Konseli sering kali malas untuk mempelajari kembali materi yang diajarkan oleh guru karena konseli lebih suka membaca atau mempelajari buku cerita, konsentrasi sering hilang dengan tiba-tiba dan pada waktu ulangan konseli sering mendapatkan nilai yang kurang memuaskan karena konseli tergesa-gesa dan kurang teliti dalam mengerjakan.
2.2 Metode Penyelidikan Kasus
Dalam usaha membantu memecahkan masalah yang dihadapi konseli, digunakan beberapa langkah kegiatan bantuan kepada konseli yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar konseli yang meliputi beberapa tahapan, yaitu:
1. Tahap Analisis
Analisi data merupakan metode pengumpulan data tentang pribadi dan lingkungan konseli. Ada beberapa tahapan dalam metode ini, yaitu
a. Observasi
Berdasarkan hasil observasi terhadap konseli di lingkungan sekolah adalah:
- Konseli sering tidak berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar.
- Konseli sering kali meremehkan mata pelajaran khususnya mata pelajaran PKn.
- Pada subbab mata pelajaran tertentu konseli sering kali tidak mengerti, karena konseli tidak memperhatikan saat guru menerangkan di kelas.
- Konseli sering merasa bosan dalam menerima pelajaran khususnya PKn, karena konseli menganggap remeh mata pelajaran tersebut.
b. Problem Check List
Metode ini merupakan rangkaian dari angket yang telah diberikan sebelumnya. Metode ini lebih merinci masalah kesulitan yang dihadapi siswa yang telah diungkapkan dalam satu angket. Tujuannya agar konseling memiliki pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dari hasil problem check list diperoleh data sebagai berikut:
1. Kesehatan
- Kadang-kadang merasa ngantuk
- Mata sering terganggu
- Pemandangan kurang jelas
2. Keadaan kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial)
- Merasa mudah tersinggung
3. Rumah dan keluarga
- Konseli merupakan anak pertama dan tidak memiliki saudara
- Konseli tinggal bersama orang tua
- Ayah keras sifatnya
- Ada anggota keluarga yang saya rindukan
4. Agama dan moral
- Sulit melaksanakan ibadah secara teratur
- Sering mengingkari janji
- Sering merasa berdosa
5. Rekreasi, olahraga, dan Hobby
- Suka nonton film (sukar membatasi nonton Film)
- Suka bermain Basket
- Lebih suka membaca buku hiburan
- Pelajaran terganggu karena hobby
6. Kebiasaan Belajar
- Saya mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dirumah
- Saya belajar kalau ada ulangan
- Saya mempunyai jadwal atau waktu belajar
- Ada kamar belajar sendiri di rumah
- Suara bising dijalan sering menggangu belajar saya
- Saya tidak biasa tidur siang
- Saya tidak merencanakan bahan apa yang saya akan pelajari
- Ada beberapa pelajaran yang sulit saya ikuti
- Saya bisa mengikuti sistem pendidikan disekolah ini
- Alat di sekolah sangat membantu saya
- Buku pelajaran saya cukup lengkap
- Saya tidak begitu senang baca buku0buku yang ada di perpustakaan
- Kadang-kadang saya bertanya pada guru tentang pelajaran
- Kadang-kadang saya bertanya atau berdiskusi dengan teman tentang pelajaran
7. Penggunaan Waktu
- Konseli tidak dapat memanfaatkan waktu luang
- Konseli tidak dapat membagi waktu belajar
8. Ulangan / Tes
- Sering kurang siap menghadapi ulangan/tes
- Sering kurang yakin terhadap pikiran sendiri
- Saya suka belajar sambil tidur
- Orang tua memberi kesempatan untuk belajar
- Sering menghentikan belajar karena tertarik pada TV
- Kurang teliti dalam mengerjakan tes
9. Ekonomi
Klien merasa ekonominya tidak ada masalah. Penghasilan orang tua mencukupi untuk keperluan sekolah
10. masalah muda – mudi
- Merasa mulai mencintai seseorang
- Klien dilarang pacaran oleh orang tuanya
c. Wawancara
Berdasaran hasil wawancara dengan konseling adalah sebagai berikut:
- Konseling belum bisa memahami arti belajar dengan baik.
- Sulit berkonsentrasi dalam pelajaran di kelas.
- Kurangnya perhatian dari orang tua terhadap cara belajar konseling di rumah.
- Konseling sering belajar sendiri di rumah.
- Konseling tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
- Konseling sering merasa malas untuk belajar mata pelajaran yang kurang diminati.
- Klien sering meninggalkan pelajaran hanya untuk menonton TV
d Dokumentasi
Data dokumentasi diperoleh dari prestasi belajar konseli pada saat mengikuti ulangan harian dan mengerjakan tugas-tugas pelajaran. Dilihat dari segi prestasinya, untuk nilai ulangan harian pertama dan kedua nilai PKn’nya adalah 35 pada ulangan pertama, 65 pada ulangan kedua.
2. Diagnosis
Diagnosis merupakan tahap penginterprestasian data dalam bentuk pengungkapan problem yang dialami siswa bermasalah. Adapun tujuan diadakannya diagnosis ini adalah untuk menemukan dan menentukan penyebab masalah yang dihadapi konseli sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang hakekat masalah yang dihadapi oleh konseli.
Pada tahap ini ada dua langkah yang dilakukan praktikan, yaitu:
1) Identifikasi masalah
Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan jenis masalah siswa dengan cara menjabarkan masalah yang dihadapi siswa berdasarkan data yang ada secara terperinci menurut klasifikasi masalah.
Setelah praktikan melakukan observasi ternyata konseli merasa dirinya pintar dan sering meremehkan mata pelajaran PKn. Konseli juga sering ngobrol dengan temannya dan kurang berkonsentrasi sehingga konseli sering tidak memperhatikan guru ketika menjelaskan mata pelajaran yang diajarkan.
Berdasarkan data dari konseli dengan memberikan angket berisikan tentang problem check terlihat bahwa klien dalam proses belajar mengajar adalah siswa yang aktif pada pelajaran tertentu. Keadaan keluarga juga relatif bagus dan tidak ada masalah.
2) Etiologi
Etiologi merupakan usaha untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah. Dari hasil analisis permasalahan (hasil interprestasi data dari peoblem check list) dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan dalam diri konseli adalah sebagai berikut:
- Konseli sulit menentukan cara belajar
- Kurang berkonsentrasi dalam pelajaran di kelas
- Sifat orang tua terhadap konseli keras
- Konseli sering ngobrol bila pelajaran berlangsung
- Konseli sering meremehkan mata pelajaran yang guru ajarkan
- Konseli tidak bisa membagi waktu belajarnya
3. Prognosis
Prognosis adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari alternatif yang terbaik dalam mengatasi masalah yang dihadapi Konseli. Prognosis ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan yang terjadi apabila konseli tidak segera mendapatkan bantuan atau bimbingan atau sebaliknya segera memperoleh bantuan atau bimbingan.
Berdasarkan identifikasi masalah yang dihadapi konseli, maka prognosisnya adalah sebagai berikut:
a. Jika tidak segera dibantu
- Konseli akan sulit memperoleh nilai rata-rata yang sama atau bahkan meningkat pada waktu yang akan datang.
b. Jika segera dibantu
- Konseli akan senang belajar dan akan lebih berkonsentrasi pada pelajaran PKn.
- Konseli akan berpengaruh pada kelasnya. Kemungkinan apabila ada penanganan yang serius maka kelas yang dahulunya kurang kondusif dapat berubah menjadi kelas yang kondusif.
2.3 Usaha Usaha Pemberian Bantuan (Treatment)
Usaha pemberian bantuan atau treatment adalah langkah inti dari studi kasus. Langkah ini bertujuan agar konseling dapat mengatasi kesulitan belajar yang sedang dihadapi sekaligus agar mendapat prestasi yang optimal.
1. Bantuan Yang Diberikan
Sesuai dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah rencana pemberian bantuan yang bisa diberikan adalah sebagai berikut
a. Melalui Wawancara Konseling
Dalam teknik ini pemberian bantuan dilakukan dalam bentuk hubungan yang bersifat face to face, yang dilakukan antara praktikan dengan Konseli. Layanan konseling ini bertujuan membantu konseli dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan penyuluhan ini diharapkan terjadi perubahan yang konstruktif pada konseli.
Layanan konseling ini dilakukan agar konseli mengenal dirinya dan lingkungannya sehingga konseli mengambil keputusan yang memuaskan bagi dirinya.
b. Bantuan yang diberikan berkaitan dengan permasalahan yang klien hadapi, pemberian bantuan penyuluhan tersebut berupa
1. Berhubungan dengan lingkungan, yaitu klien harus bisa mengendalikan diri saat di kelas sehingga proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan lancar tanpa ada keributan yang disebabkan klien mengajak bicara temannya
2. Memberikan saran-saran dan pengarahan agar klien berusaha belajar dengan lebih giat lagi dan dapat memanfaatkan waktu dengan baik , bisa mengurangi waktu untuk menonton TV dan bermain
3. Menyarankan klien agar membuat jadwal kegiatan kesehariannya agar waktunya tidak terbuang dengan percuma
4. Memberikan saran agar klien mengadakan pelajaran bersamaatau kelompok dengan teman-temannya yang lebih menguasai materi
5. Mengadakan pendekatan bimbingan dengan baik kepada klien agar dapat mengurangi kebosanan klien terhadap pelajaran khususnya PKn
c. Bimbingan cara membagi waktu kegiatan sehari-hari
Memberikan bimbingan bagaimana membagi waktu yang benar, sehingga siswa dapat belajar dengan waktu yang cukup.
d. Remidial Teaching
Dilakukan karena nilai konseli kurang dari SKM (nilai SKM = 72) yaitu 35. biasanya dilakukan pada waktu jam remidi . Hal ini supaya konseli mendapatkan nilai yang diharapkan. Materi yang disampaikan adalah materi-materi yang dapat dipahami oleh siswa.
e. Pelimpahan
Pelimpahan dilakukan apabila praktikan sudah tidak dapat membantu menyelesaikan permasalahan konseli, diharapkan konseli tetap dapat mengembangkan potensi belajarnya.
d. Home Visit
Home visit merupakan kunjungan praktikan ke rumah konseli. Hal ini merupakan usaha praktikan untuk mengetahui kondisi keluarga konseli.
2. Bantuan yang belum terlaksana
Berdasarkan yang telah dikemukakan diatas, maka pemberian bantuan yang belum terlaksana adalah sebagai berikut:
a) Pelimpahan
Pelimpahan tidak dapat dilaksanakan oleh praktikan dikarenakan praktikan sudah dapat membimbing konseli sehingga bimbingan ini dirasa tidak diperlukan.
b) Home Visit
Mengingat keterbatasan waktu yang diberikan dalam menyelesaiakn laporan layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi maka home visit belum dapat dilakukan.
3. Follow UP
Follow Up adalah usaha yang dilakukan oleh praktikan untuk mengikuti perkembangan klien setelah melakukan keputusan sendiri untuk bertindak. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui keberhasilan diagnostik kesulitan belajar dan usaha bantuan yang diberikan.
Langkah yang diambil adalah:
a) Penilaian
Konseli sudah mulai mengalami peningkatan dalam mengikuti pelajaran di kelas terutama dalam pelajaran PKn. Konseli sudah mau berkonsentrasi dan memperhatikan saat guru menerangkan di depan kelas.
b) Wawancara
Dari hasil wawancara konseli sudah dapat membagi waktu belajar dengan baik.
c) Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung konseli sudah bersemangat dalam mengikuti mata pelajaran PKn di kelas.
d) Membagi tugas dan peranan dengan orang-orang tertentu (guru dan wali kelas) dalam memberikan bantuan kepada konseli agar konseli dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
e) Senantiasa mengecek lagi (re-check) kemajuan konseli berkaitan dengan pemahaman konseli terhadap bantuan yang diberikan, yang berupa pemahaman pengajaran maupun mengecek ketepatgunaan program pengajaran yang dilaksanakan.
Berdasarkan langkah-langkah yang dilakukan praktikan terhadap konseli, bahwa nilai ulangan harian konseli semakin meningkat (terlihat pada lampiran). Karena keterbatasan waktu selama praktek di lapangan, maka praktikan tidak dapat melakukan layanan bimbingan studi kasus secara optimal dan tidak dapat melakukan rencana bantuan yang diberikan. Karena itulah untuk mengoptimalkan dan untuk mengetahui perkembangan konseli selanjutnya, usaha yang dapat dilakukan adalah melimpahkan kepada Guru mata pelajaran, konselor dan Wali kelas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan data-data dan langkah-langlah yang dilakukan praktikan menunjukkan bahwa bimbingan belajar yang efektif sangat penting adanya bagi konseli, agar konseli dapat meningkatkan prestasi belajarnya secara optimal.
Dari bimbingan belajar yang praktikan lakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a. Dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal banyak sekali faktor-faktor yang menghambat baik yang bersifat intern maupun ekstern.
b. Untuk menemukan alternatif pemecahan suatu masalah harus dilaksanakan secar terencana.
c. Seorang guru hendaknya tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga harus mengetahui perkembangan siswa, masalah-masalah yang dihadapi siswa, dan dapat membantu mengatasi masalah tersebut.
d. Proses belajar mengajar yang dilaksanakan sekolah memerlukan kerjasama yang baik antara sekolah, guru, orang tua dan masyarakat.
e. Layanan bimbingan siswa adalah upaya memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah
f. Layanan bimbingan ini akan berhasil dengan baik apabila ada peran aktif dari klien untuk berusaha bersungguh-sungguh menyelesaikan masalah dalam kesulitan belajarnya serta didukung oleh partisipasi orang tua, guru, wali kelas dan lingkungan siswa atau lingkungan sekolah.
3.2 Saran-saran
Dari hasil analisis layanan bimbingan siswa ini, praktikan menyarankan:
a. Kepada Konseli
§ Konseli diharapkan mampu membagi waktu secara tepat untuk kepentingan balajar dan bermain, sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik.
§ Saat pembelajaran berlangsung dikelas sebaiknya jangan terpengaruh oleh teman yang mengajak bercanda sehingga konsentrasi dalam memahami materi tetap terjaga
§ Ingat akan cita-cita dan harapan orang tua, agar semangat belajar klien semakin meningkat
b. Kepada Guru/Wali Kelas
Guru harus mampu memberikan perhatian yang merata kepada siswa di kelas, terutama siswa yang menghadapi permasalahan. Guru hendaknya menjadi mitra BP untuk memberikan bantuan pengarahan yang berkaitan dengan cara belajar yang baik dan efisien dan menekankan pada pentingnya pendidikan masa depan anak didik.
c. Kepada BK
Petugas BK diharapkan selalu menjalin komunikasi dengan siswa sehingga dapat mengetahui perkembangan siswa yang telah mendapat bantuan. Secara umum BK diharapkan menjadi penghubung antara siswa, guru, dan orang tua sehingga permasalahan siswa dapat dengan cepat diketahui dan dengan segera diselesaikan.
d. Kepada Orang Tua
Orang tua hendaknya terus memberi dorongan kepada anaknya untuk terus berprestasi dan selalu mengontrol anaknya. Selan itu orang tua hendaknya menjalin kerjasama dengan sekolah sehingga mengetahui perkembangan anak di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Djumhur. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung : CV. Ilmu.
Hayinah. 1992/1993. Masalah Belajar dan Bimbingan. Malang: Depdikbud Malang, Proyek OFF.
Tim PPL-FKIP. 2006. Pedoman Program Pengalaman Lapangan. Malang : Unit PPL.
Winkel, Ws. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta : Gramedia.
Widada dan Hidayah, Nur. 1997/1998. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Malang : IKIP Malang.
Abdullatif. 2007. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung : Refika Aditama.
Langganan:
Postingan (Atom)